Sabtu, 26 Oktober 2013

Di Ujung Gang


Sudah satu jam ia menanti, kadang ia celingukan mendelok ke dalam gang. Aku yang menulis cerita ini merasa sungguh prihatin dengan kondisi ia yang Cuma celingukan. Sebagai orang yang prihatin, aku lanjutkan saja menulis tentang ia yang sedang menanti sambil celingukan. Ia masih setia berdiri disana, aku pun heran mau-maunya ia menanti sebegitu lamanya.
             
           Akhirnya, ada juga yang nongol dari ujung gang, si ia memandang dengan melotot sembari meneliti apakah yang dilihatnya memang yang ditunggu. Oh, ternyata bukan. Si ia pun akhirnya jongkok gara-gara sudah satu jam lebih lima menit ia berdiri di ujung gang. Aku prihatin kembali, “kenapa nggak ditinggal aja ?” “kenapa ia nggak bawa kebut motornya aja ?” “kenapa ?.”
             
          Si ia mengeluarkan telepon selulernya dari saku jaket sebelah kanannya, kemudian jarinya menari diatas layar hapenya yang sentuh itu. “kamu dimana ?” ia mengirim pesan singkat kepada yang ditunggu. Di genggam hapenya dan sesekali ditengok. Kamu tau sapi kalo lagi makan rumput ? ya, begitulah si ia yang dari tadi kepalanya naik turun ngelirik layar hapenya. Tangannya masuk ke saku sebelah kirinya lalu dirogoh isinya dan keluarlah sebuah earphone dari kantongnya. Si ia ribet sendiri lantaran kabelnya kusut. Udah lurus kabelnya, colokan jacknya dipasangkan dengan bolongan jack yang ada dihapenya, dibukalah aplikasi musik di hapenya. Setelah bolak-balik ngeliatin playlist yang ada, Rossa – Menunggu jadi pilihannya. Mungkin ia pikir pas dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan lantaran terlalu lama menunggu.
            
         Proses mengeluarkan earphone, merapihkan kabel yang ruwet, dan milih lagu yang ada di playlist ternyata memakan waktu 25 menit. Siapa sih yang ngitungin ? kok rajin banget ?. 25 menit tadi menggenapkan waktu ia yang ternyata sudah menunggu selama 1 jam 30 menit. Sekarang Rossa – Menunggu sudah “move on” ke Jaja Miharja – Cinta Sabun Mandi. Gak sadar juga si ia kalo pantatnya geal-geol sendiri. Sambil geal-geol ia nggak lupa untuk terus nengok ke dalam gang kalau saja yang dinanti tiba-tiba muncul, ia sudah siap dengan senyum sumringahnya.
           
         Cinta Sabun Mandinya selesai, si ia memasukkan tangannya kedalam saku celana jeans sebelah kanannya. Ternyata si ia ngambil sebungkus super dari kantongnya, dicomotnya sebatang. Si ia tiba-tiba berdiri, oh nyari korek rupanya. Ternyata koreknya ada di saku celana jeans belakang sebelah kiri. Jongkok lagi si ia, super yang dari tadi ia pegang disela-sela jari telunjuk dan tengah tangan kanannya dibakar juga. Sebatang super lalu dihisapnya dalam-dalam “paaaahh” dikeluarkannya asap putih yang mengepul dari mulutnya. Sambil nyuper, si ia ngganti lagu dari playlistnya. Oh, ada lagunya The Corrs – Everybody Hurts di playlistnya. Dipijit layarnya lalu berdendanglah lagunya The Corrs. Si ia yang dari tadi geal-geol mendadak jadi kalem gara-gara Everybody Hurts. Galau kali ye.
             
        Ia masih kayak sapi yang lagi makan rumput. Gara-gara belum ada balesan, ia ngeliat jam dan gak sadar si ia ternyata udah 1 jam 45 menit ia menanti orang yang dinanti di ujung gang. Kaget sendiri ia. Kagetnya udah ilang, ia ganti lagu lagi dari The Corrs, ia milih lagunya Rocket Rockers yang judulnya Ingin Hilang Ingatan Itu. Mungkin ia pengen pura-pura lupa kalo ia lagi nunggu. Masih kalem juga si ia dengerin lagu itu. Habis ganti lagu, ia nengok ke dalam gang. Ada yang keliatan dari sana, seseorang yang terlihat sedang menuju kearah si ia. Dekat dan semakin mendekat, langkahnya berat dan rada miring ke kiri jalannya. Oh, ternyata yang dilihat si ia orang yang lagi nganterin gas elpiji 3kg ke warung yang ada di gang itu. Nasib oh nasib, kecewa juga si ia. Untuk mengobati kekecewaannya, si ia ganti lagu Ingin Hilang Ingatan ke lagunya J-rocks yang Ceria. Ia nggak kalem lagi, ia mulai komat-kamit ngikutin lirik lagunya J-rocks. Alhamdulillah, wajahnya ia jadi ceria juga.
             
       Masih konsisten dengan ngangguk-ngangguk ngeliatin layar dan celingak-celinguk kedalam gang, si ia ngeliat ada yang muncul dari ujung gang. Tapi kok rame-rame ? Tapi kok naik motor ? kok, ada orang yang tampilannya jepang-jepangan gitu ? kok, kaya video clipnya J-Rocks yang Ceria ? oalah, saking menghayatinya si ia sampe berhalusinasi gitu. Aku sampe sedih, kok segitunya si ia nunggu dan akhirnya berhalusinasi sendiri.
            
        Sudah genap dua jam ia menunggu, kelakuan si ia mendapat perhatian dari penjaga warung yang ada di gang itu. “ini orang ngapain ? lama banget dua jam nangkring di situ ? jangan-jangan ia maling lagi survey.” Si ia berdiri dan berjalan menuju warung, baru seperempat jalan si ia balik lagi gara-gara kunci motornya masih nyantol di motor. Sudah dicabut dan diamankan di saku jaketnya lalu ia kembali berjalan menuju warung. Pemilik warung yang melihat gelagat si ia ketakutan lalu buru-buru menutup warungnya. “BANGKE, orang gua mau beli aer malah tutup.” Gerutu si ia. Masih kesal, ia kembali ke singgasananya di ujung gang. Ia nyetel lagunya Endank Soekamti – Semoga Kau Di Neraka. Aku paham kok, si ia kesel.
           
         Setelah kejadian tadi, si ia tertidur di ujung gang. Wajahnya lelah, mungkin karena terlalu lama menanti. Aku sedih sekaligus kasihan dan sedikit kesal karena ia yang tiada bosannya menanti. Si ia terbangun, ia langsung nengok ke dalam gang. Yang dinanti belum juga nongol. Ia berfikir jangan-jangan, yang dinanti sudah datang. Tapi logikanya menjawab tidak mungkin kalau yang dinanti sudah datang, tidak membangunkan ia yang masih tertidur. Ia spontan mengecek telepon selularnya, belum juga ada balasan. Ia lalu kembali memasang earphone yang tercabut dari telinganya sewaktu ia tertidur. Ia masih menanti, menanti, dan menanti.
              
          Aku yang menulis ia yang sedang menanti akhirnya bosan juga. Ngapain aku mikirin orang yang lagi nunggu ? heran. Mungkin kamu yang lagi baca juga mikir, “si ia bego banget, mau aja nungguin selama itu ? mending cabut.” Atau ada juga yang mikir “salut yah, mau nunggu selama itu, hebat.” Apapun yang kalian pikirkan, itu sah-sah saja dan tidak melanggar hukum. Aku pun sebenarnya salut sama ia, ia rela mengorbankan waktunya demi menanti, dan sampai aku mau menyelesaikan tulisan ini ia masih berharap yang dinanti datang. Dan jika kamu adalah salah satu yang bertanya “kok ada sih, orang yang mau nunggu sampe segitunya ?” jawabannya ada.

Yaitu si Ia, yang tetap setia dan selalu yakin kalau yang dinanti akan hadir dan ketika yang dinanti akhirnya datang, Ia selalu siap menyambut dengan senyum terbaiknya.