aku berhenti merenung ketika tersadar aku hanyalah sebuah nol besar diruang itu, mengorong akan semangat bak kompor namun nyatanya aku hanya diam. menggonggong soal passion, militansi, dan semacamnya nyatanya aku lagi-lagi hanya nol besar. aku sadar, aku terperangkap dalam keengganan yang kunikmati. kucoba melawan keengganan itu, ujungnya sama aku tetap mengorong, menggonggong, sampai aku lupa harus melawan keengganan itu. aku tersadar kembali bahwa mereka menganggapku ini paling paham dengan adanya ruang itu, aku semakin terdiam dalam renunganku. sobat, kalian ini lebih dari aku, kalian nyata dan aku hanya adanya aku yang tak mampu melawan keengganan.
sudah kusimpulkan aku ini pecundang yang berlindung dibalik semua gonggonganku. tapi aku bukanlah batu yang diam. aku juga bukanlah anjing yang menggonggong lalu berlari ditimpuk batu. aku adalah seseorang yang hidup untuk menghidupi passionku. tak mungkin selamanya aku begini, aku punya potensi menjadi api dan bukan sekedar kompor. mungkin ini adalah titik ku untuk berbalik, berlari kembali, dan siap menghadapi tantangan apapun bentuknya. aku percaya akan diriku dan mereka bisa bersinergi menghidupi kembali ruang itu. aku ingin seperti kalian yang nyata, dan kubuktikan segera. terimakasih lamunan belum tidurku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar