“Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah
hatiku
Doa kami di nadimu”
Lirik
lagu Iwan Fals yang membuatku tertegun hari ini. Hari ini aku kembali merenung
karena lagu ini, kusadar bahwa harapan orang tua terhadap anaknya sangatlah
besar. Jika aku belum pernah sekalipun mencoba menjadi seperti apa yang
diharapkan oleh mereka maka dosa besar kudapat dengan mudahnya. Aku merasa
sudah melakukan hal yang benar, namun belum tentu yang kuanggap benar saat ini
sesuai dengan harapan kedua orang tua ku.
Semua
ini sebenarnya hanyalah masalah tanggung jawabku kepada mereka. Mereka yang
merawatku, membesarkanku, dan mendidikku hingga aku jadi seperti ini. Sekarang kuanggap
diriku sudah dewasa, sudah saatnya aku mengambil alih kehidupanku sendiri dan
menjadi apa yang aku mau. Aku ingin ada disana, berkarir di dunia broadcasting
karena saking cintanya diriku terhadap dunia itu. Kusibukkan diriku untuk
mencari ruang, belajar dan mengasah kemampuanku. Sampai aku terkadang melupakan
pertanggung jawabanku kepada mereka yaitu kuliah.
Semester
ini harus kuakui aku malas sekali kuliah. Aku sedang merasa kuliah hanyalah
sebuah proses sertifikasi agar mendapatkan syarat untuk bekerja nanti. Makanya kujalani
hanya sebagai formalitas. Syukur – syukur dapat nilai bagus, dapat nilai pas –
pasan saja aku sudah alhadulillah. Menurutku, mengasah kemampuan dibidang yang
aku suka adalah segalanya, kuliah kujadikan prioritas nomer sekian. Buku – buku
yang kubaca juga tak ada sangkut –pautnya dengan mata kuliah yang aku ambil
semester ini. Lebih hobi baca buku yang ada Public Speakingnya, broadcastingnya,
radionya dan yang berhubungan dengan itu. Hasilnya adalah terdiam saat ujian
tengah semester. Beruntung aku sedikit memperhatikan dosen saat diskusi di
kelas, jadi kegiatan mengarangku dilembar jawaban bisa terselesaikan dengan
baik.
Sekarang,
aku punya istilah untuk diriku sendiri, aku adalah manusia penuh keengganan. Enggan
dengan hal – hal yang tak ada sangkut pautnya dengan passion yang aku punya,
enggan menyelesaikan masalahku sendiri, dan enggan melawan kemalasan. Sampai playlist
di laptop memutarkan lagu Iwan Fals ini aku baru tersadar, ternyata hal yang
aku nomor sekiankan adalah bentuk tanggung jawabku terhadap mereka, hal yang
mereka harapkan dariku. Pesan mereka setiap aku pulang ke rumah selalu “kuliah
yang benar ya le, kamu anak pertama. Jadi contoh buat ade – ade mu.” Pesan mereka
kudengar namun selalu kuanggap lalu.
Mungkin
aku harus mengucapkan terimakasih kepada Iwan Fals yang telah menyadarkanku
malam ini. Jika tanpa Galang Rambu Anarki aku akan tetap begini dan belum
berniat melawan ke engganan. Yang berlalu biarlah berlalu, kesalahan diawal
semester ini biar saja pergi. Sekarang waktu yang tepat untuk melawan ke
enggananku, melaksanakan kewajibanku terhadap orang tua sebagai bentuk
pertanggung – jawaban ku kepada mereka. Memang semua di dunia ini harus
seimbang, mauku, maunya mereka, kuseimbangkan semampuku agar mauku, maunya
mereka, keduanya dapat tercapai.
Sekali lagi
Terima Kasih Iwan Fals
Tidak ada komentar:
Posting Komentar