Kamis, 08 Mei 2014

Ditegur Iwan Fals



            “Cepatlah besar matahariku
            Menangis yang keras janganlah ragu
            Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
            Doa kami di nadimu”

            Lirik lagu Iwan Fals yang membuatku tertegun hari ini. Hari ini aku kembali merenung karena lagu ini, kusadar bahwa harapan orang tua terhadap anaknya sangatlah besar. Jika aku belum pernah sekalipun mencoba menjadi seperti apa yang diharapkan oleh mereka maka dosa besar kudapat dengan mudahnya. Aku merasa sudah melakukan hal yang benar, namun belum tentu yang kuanggap benar saat ini sesuai dengan harapan kedua orang tua ku.

            Semua ini sebenarnya hanyalah masalah tanggung jawabku kepada mereka. Mereka yang merawatku, membesarkanku, dan mendidikku hingga aku jadi seperti ini. Sekarang kuanggap diriku sudah dewasa, sudah saatnya aku mengambil alih kehidupanku sendiri dan menjadi apa yang aku mau. Aku ingin ada disana, berkarir di dunia broadcasting karena saking cintanya diriku terhadap dunia itu. Kusibukkan diriku untuk mencari ruang, belajar dan mengasah kemampuanku. Sampai aku terkadang melupakan pertanggung jawabanku kepada mereka yaitu kuliah.

            Semester ini harus kuakui aku malas sekali kuliah. Aku sedang merasa kuliah hanyalah sebuah proses sertifikasi agar mendapatkan syarat untuk bekerja nanti. Makanya kujalani hanya sebagai formalitas. Syukur – syukur dapat nilai bagus, dapat nilai pas – pasan saja aku sudah alhadulillah. Menurutku, mengasah kemampuan dibidang yang aku suka adalah segalanya, kuliah kujadikan prioritas nomer sekian. Buku – buku yang kubaca juga tak ada sangkut –pautnya dengan mata kuliah yang aku ambil semester ini. Lebih hobi baca buku yang ada Public Speakingnya, broadcastingnya, radionya dan yang berhubungan dengan itu. Hasilnya adalah terdiam saat ujian tengah semester. Beruntung aku sedikit memperhatikan dosen saat diskusi di kelas, jadi kegiatan mengarangku dilembar jawaban bisa terselesaikan dengan baik.

            Sekarang, aku punya istilah untuk diriku sendiri, aku adalah manusia penuh keengganan. Enggan dengan hal – hal yang tak ada sangkut pautnya dengan passion yang aku punya, enggan menyelesaikan masalahku sendiri, dan enggan melawan kemalasan. Sampai playlist di laptop memutarkan lagu Iwan Fals ini aku baru tersadar, ternyata hal yang aku nomor sekiankan adalah bentuk tanggung jawabku terhadap mereka, hal yang mereka harapkan dariku. Pesan mereka setiap aku pulang ke rumah selalu “kuliah yang benar ya le, kamu anak pertama. Jadi contoh buat ade – ade mu.” Pesan mereka kudengar namun selalu kuanggap lalu.

            Mungkin aku harus mengucapkan terimakasih kepada Iwan Fals yang telah menyadarkanku malam ini. Jika tanpa Galang Rambu Anarki aku akan tetap begini dan belum berniat melawan ke engganan. Yang berlalu biarlah berlalu, kesalahan diawal semester ini biar saja pergi. Sekarang waktu yang tepat untuk melawan ke enggananku, melaksanakan kewajibanku terhadap orang tua sebagai bentuk pertanggung – jawaban ku kepada mereka. Memang semua di dunia ini harus seimbang, mauku, maunya mereka, kuseimbangkan semampuku agar mauku, maunya mereka, keduanya dapat tercapai.
Sekali lagi

Terima Kasih Iwan Fals

Tidak ada komentar:

Posting Komentar