Minggu, 01 Desember 2013

Sumitro yang mencari

Hari sudah sore, matahari mulai berpindah tempat ke tempat yang membutuhkan sinarnya. Sedangkan shift jaga malam digantikan oleh bulan yang walaupun sinarnya tak seterang matahari tapi selalu berusaha untuk menerangi gelapnya malam.
Semua tanda alam itu adalah alarm Sumitro yang suka dipanggil katro sama Ia untuk merapihkan lapaknya sekaligus mengakhiri aktivitas jualannya.

Setelah semuanya terkukut rapih, sumitro mendorong gerobaknya menuju istana tempat sumitro mengistirahatkan tubuhnya. Istananya tidak begitu jauh dari tempat dia berjualan, kira-kira 1 kilometer lah tapi tetap terasa capek. Apalagi sambil dorong gerobak, belum lagi kena macet di jalan, maklum lah, gerobak tak memiliki kemampuan menyelip sedinamis motor. Reksiko berdagang di tepi jalan protokol.

Tubuh sumitro yang jangkung dan kerempeng itu dengan lesu mendorong gerobaknya menuju istana alias rumahnya. Rambutnya yang gondrong terkibas - kibas bak model iklan sampo karena angin berhembus kencang sore itu. Asap knalpot kendaraan yang melintas membuat hidungnya kembang kempis karena dia males menghirup karbon hasil pembakaran kendaraan - kendaraan yang semakin hari kian tak terbendung jumlahnya.

Sampai di suatu lampu merah, Sumitro melihat dari kejauhan. Seorang wanita berparas ayu, rambutnya panjang, matanya dua, hidungnya satu lubangnya dua, bibirnya satu dan kupingnya dua. Sedang menyebrang jalan melewati zebra cross.

"dina bukan yah ?"
Sumitro membatin.
Perempuan itu semakin mendekat kearah Sumitro.
"itu dina. Jelas itu dina."
Sumitro meyakini dirinya.
"Dina Dina !!"
Panggil Sumitro yang ternyata sudah yakin.
"Troooooo"
Balas dina yang menengok lalu histeris.
Setelah berhasil menyebrang jalan, Dina menghampiri Sumitro yang langsung meminggirkan gerobaknya ke tepi jalan. Bangku plastik yg ditaruh diatas gerobak diturunkannya agar dia bisa berbincang sambil duduk dengan Dina.

"Troo, apa kabar ?" sapa dina kepada Sumitro yang membuka percakapan diantara mereka berdua. "Aku baik din, kamu kemana aja ? Ia tadi siang main ke lapak ku. Katanya kamu ingkar janji sama Ia ?" si Sumitro langsung nembak tanpa basa-basi. Membuat Dina yang tadinya sumringah karena sudah lama tak bersua dengan Sumitro, menjadi diam dan kaku, kemudian bibirnya mulai bergetar, diikuti dengan air mata yang perlahan menetes dari kedua bola mata Dina. Sumitro yang membaca bahasa tubuh Dina jadi ikut terdiam.
"din, maafkan aku. Bukan mau aku untuk mengulik masalahmu. Hanya aku sedih melihat sahabatku Ia. Ia jadi sering 3M, Merenung, Membisu, dan Manyun. Tapi itu hak kamu din, mau menjawab pertanyaanku atau tidak, aku mengerti."
Dina beranjak dari kursi sambil mengelap air matanya.
"Tro, aku permisi dulu ya. Tolong sampein ke Ia. Aku minta maaf." Air matanya masih menetes. Ia pergi meninggalkan Sumitro yang sudah semakin bingung dengan apa yang terjadi antara sahabatnya Ia dengan wanita yang baru saja pergi meninggalkan Sumitro sendiri.
Sumitro langsung menaikkan kembali bangku plastik tadi ke atas gerobaknya. Di dorongnya gerobak cendolnya menuju istananya yang indah.

Sepanjang perjalanan, Sumitro selalu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara Ia dan Dina. Jika Dina tidak ada apa-apa dengan Ia, mengapa Dina jadi  emosional ?, mengapa dina menangis ?. Sumitro semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Timbul niatan untuk mempertemukan Ia dan Dina, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk terus mencari. Sebuah jalan agar sahabatnya bisa kembali tersenyum, seperti dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar