Sabtu, 14 Desember 2013

Aku dan Kopi

"Beri aku secangkir kopi di pagi hari, maka aku akan merubah dunia." Sebuah rangkaian kata yang pernah kulihat di sebuah kafe di kota satria. Aku setuju dengan rangkaian kata itu. Aku adalah seorang pengagum, penggemar, dan penggila kopi.

Sejarah panjang terbentang jika aku mencoba menerawang bagaimana aku bisa secinta ini dengan kopi. Aku selalu ingat, ketika aku masih berfantasi dengan imaji masa kecilku, ayah ku selalu menyendokiku air hitam pekat itu. Tidak salah jika akhirnya, aku selalu mencuri-curi seseruput air kopi dari gelas ayah ku. Nakal, tapi aku suka.

Banyak orang yang memaknai kopi hanya sebatas minuman yang bisa membuat kita menghilangkan kantuk. Bahkan para ekstrimis pembenci kebiasaan ku mengopi sering bilang bahwa kopi itu jahat, suatu saat ginjalmu akan kenapa-napa. Tapi aku punya pandangan lain tentang secangkir kopi.

Kopi, entah apapun jenisnya selalu membuat semua pecintanya jatuh, dan akan selamanya jatuh cinta dengannya. Dan bagi para pecandunya, kopi itu cinta. Hanya ku bolak-balik saja. Tapi nyatanya begitu.

Didalam secangkir kopi, terdapat rindu yang selalu berseru. Dikala para pecintanya tertekan dengan semua aktivitas bumi yang kian menjemukan, secangkir kopi bagai mata yang menatap raja ampat. Ahh surga. Dan tahukah kalian, ketika lidah menyentuh tepi cangkir dan akhirnya menemukan air hitam pekat itu rasa rindu yang sebegitu dalam terlampiaskan sudah. Rasanya sama, seperti menemukan cinta yang lama dinanti. Percayalah.

Ada lagi, ketika air kopi mulai menjalari seluruh rongga mulut, firdaus rasanya mendekat. Lebay memang diksiku. Ah tak apalah, memang itu yang kurasa. Mataku mungkin akan terpejam dalam, menikmati cinta yang larut dalam air hitam pekat itu. Otakku yang jarang berpikir pun mendadak tambah malas berpikir dan hanya terkonsentrasi pada cinta yang larut tadi.

Lewat sudah rongga mulut, melintasi tenggorokan yang akhirnya akan disaring racunnya di hati lalu akan berlabuh di wc sabagai air seni. Terlihatnya sia-sia ya, tapi sepeninggal ia banyak efek yang dirasa. Semangatku meninggi, mataku seperti terkena tetesan obat mata, penatku lenyap dibawa hangatnya secangkir cinta. Aaaah sudahlah, aku cinta kopi. Apapun alasannya apapun yang kurasa, aku sudah jatuh. Bahkan sebetulnya banyak yang ingin aku deskripsikan tentang secangkir kopi dan aku. Hanya saja cinta selalu sulit dideskripsikan. Ini bukan alibiku, tapi bisa jadi.

Dan belakangan ini, sesorang berkata kepadaku "kalau suatu saat kamu lelah berjuang, ayok kita bikin kopi, kita ngopi, lalu saling bertukar cerita." aaaahh, aku sudah menemukan Cinta + Cinta jadi luar biasa Cinta. Akhirnya, aku punya partner gila sekaligus pecinta kopi seperti yang pernah aku bayangkan selama ini. Sepertinya Cinta sudah berpihak padaku. Dan akan kujaga keberpihakanmu. Absurdnya Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar