Senin, 25 November 2013

Ia dan Sumitro

Ia, kalian masih ingat dengan si ia ? Ia yang selalu menanti di ujung gang itu. Sekarang dia sudah pergi meninggalkan ujung gang itu dan melesatkan motornya secepat marc marquez.

Alasannya sudah bisa kalian tebak, yang ia nanti memang tidak pernah muncul di hadapannya. Yang ia nanti tidak pernah ada untuknya.

Ia mungkin tidak pernah bisa menampakkan kesedihannya. Karena gengsinya sebagai seorang laki-laki yang harus terlihat tegar. Apapun yang terjadi kepadanya.

Sampai akhirnya ia merasa lelah di perjalanan. Ia menghentikan motornya di depan gerobak penjaja es cendol sumitro. Sumitro adalah seorang tukang cendol favorit ia yang selalu mengerti kemauan si ia. Kalau ia berhenti di depan gerobak, tanpa ada omong apapun sumitro langsung memberikan segelas es cendol kesukaan ia. Sumitro juga tempat ia mencurahkan segala keluh kesahnya, mulai dari masalah kuliah, hingga masalah percintaan ia yang sebenarnya sumitro malas untuk mendengarkan. Sumitro usianya lebih tua setahun daripada ia. Mereka sebenarnya adalah teman bermain sejak masih kecil dan sumitro selalu jadi penghibur setia ia dikala ia sedang murung. Cuma karena mereka berbeda nasib, sumitro berbeda dengan ia yang mampu melanjutkan kuliah sedangkan sumitro harus berjualan es cendol.

Tapi hari itu, ia menolak es cendol dari sumitro dan membuat sumitro merasa heran juga kesal. Kan sayang tuh es cendolnya.

"kenapa sih ia ?" "kamu beda banget hari ini."
"biasa tro, si dina."
"ada apa sama dina ?"
"dia gak pernah mau jalan lagi sama aku." "hari ini dina janji mau ketemu, tapi mana ? 3 jam ku sia-sia cuma karena dina yang egois." "aku nyerah tro..."

Sumitro bingung, karena ia sebelumnya belum pernah sekecewa ini karena dina. Dina terhitung sering membuat ia kecewa. Dulu ia pernah di tinggal oleh dina lantaran dina dekat dengan pria yang lain yang mungkin lebih lebih lebih dari si ia. Sampai akhirnya dina tersakiti dan dina kembali pada ia. Sumitro pun kesal karena ia yang bodoh. Buat apa mau menerima kembali ? Kamu sudah disakiti.

"Tro, apa aku berhenti aja yah tro."
"aku gabisa buat apa-apa ya, itu pilihan kamu ya." "jalanin apa yang kamu yakinin aja !"
"aku yakin tro, cinta ini suatu saat akan berbalas. Tapi..."

Sumitro menatap dalam mata ia dan mulai menunjukkan muka serius. Akhirnya, sumitro memotong perkataan ia yang  membuat sumitro gregetan.

"Tapi apa ? Jangan jadi bodoh !" "sudah berapa kali kamu dibuat seperti ini ?" "kamu itu, cuma dianggap teman biasa sama dina."
"iya tro, aku paham maksud kamu."
"Sudah 3 tahun aku melihat kamu muram karena dina." "kamu ini udah aku anggap adik sendiri.
Apa tega seorang abang melihat adiknya sedih kayak sekarang ini ?"

Tiba-tiba ia nyengir sambil nahan ketawa.

"dramatis amat sih tro, iyak abangku makasih banyak ya. Sini adik cium sini." si ia memanyunkan bibirnya.

Tawa mereka berdua meledak seketika. Sumitro yang dimata ia tukang lawak mendadak jadi mirip artis FTV dan itu membuat ia geli karena nggak biasanya sumitro seperti itu.

"kamu cocok tro, gantiin Raffi Ahmad main FTV." "huahahaha"

Si ia ngakak lagi. Bahkan lebih kenceng. Untung aja lapaknya sumitro lagi sepi.

"yeh, si ia. Dikasih tau malah ngeledek. Awas nanti curcol lagi, abang getok pake cidukan cendol."

Bales sumitro sambil cengengesan gak jelas.

Hari itu, karena bertemu dengan sumitro. Ia merasa sedikit terobati  rasa kecewanya akan si dina yang mulai cuek kembali terhadap ia. Beribu pertanyaan muncul di benak ia. Hanya saja, ia cuma bisa menduga dan tidak pernah bisa menjawab beribu pertanyaan itu. Biarlah waktu yang mengambil peran untuk membuktikan semuanya.











Serial ia, Insya Allah akan terus tertulis di blog ini :). Hanya sedang belajar berkarya. Mohon kritik dan sarannya ya :)