Membuka
Asa Para Pengusaha
Oleh
: Hanifan Satria (F1C012024)
Apa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini ?
ditengah kondisi negara kita yang makin semrawut dan timbulnya krisis
kepemimpinan di masyarakat, Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang dapat
memberikan terobosan baru, pemimpin yang mempunyai pola pikir praktis bukan
hanya jago dalam hal mengkonsepkan sesuatu. Presiden kita yang sekarang ini
menurut gua merupakan sebuah anomali, yakali presiden suka banget ngeluh dan
berprihatin ria. Dan ini jadi aneh karena pak SBY presiden yang basic-nya
adalah seorang militer. Militer mana yang doyan ngadu dan ngeluh ? gua juga
belum pernah nemu yang kayak gini, sekalinya nemu dia adalah presidene dhewek
loh sodara-sodara.
Ini menjadi sebuah ketimpangan ketika dulu kita mengalami
masa dimana negara kita dipimpin oleh seorang militer. Yaitu pak Harto dengan
kediktatorannya, membungkam siapa saja yang akan menghadangnya, menyingkirkan
siapa saja yang akan menentangnya, dan menjatuhkan siapa saja yang anti
padanya. Berkat kediktatorannya, ia berhasil menjadi presiden dengan periode
kepemimpinan terlama yaitu 32 tahun. Media dikekang dan tak banyak bersuara,
sudah cukup banyak media yang dibredel oleh pak Harto. Namun gaya kepemimpinan
seperti pak Harto tidak disukai oleh masyarakat, akhirnya pada bulan mei tahun
1998 Pak Harto mengundurkan diri sebagai presiden akibat dari banyaknya
tuntutan masyarakat yang menginginkan pak Harto mundur.
Masa lalu yang kelam itu sekarang udah saatnya
ditinggalkan, yuk mari kita “Move On” ke era “Reformasi”. Era dimana Demokrasi
yang agung dielu-elukan. Sistem Politik Indonesia yang sekarang menganut azas “Demokrasi”
memperkenalkan kompetisi bebas untuk merebut kekuasaan. Kita gak terpaku lagi
sama calon-calon konvensional dari tokoh besar partai politik dan kalangan
militer namun dunia usaha juga menjadi salah satu sumber pemimpin yang menarik
untuk dicalonkan. Sebetulnya di Amerika
Serikat nun jauh disana sudah banyak para pengusaha yang dengan pedenya
mencalonkan diri sebagai calon presiden, beberapa diantaranya adalah Ross perot
sang pendiri perusahan EDS (Electronic Data System) dan juga Steve Forbes si
mpunya majalah “Forbes”. Sebetulnya sih ga usah jauh-jauh ke Amrik, di Thailand
aja ada Thaksin Shinawatra yang saking kayanya dia bisa beli klub bola yang
berkompetisi di Premier League Manchester City. Thaksin pernah menjabat sebagai
Perdana Menteri Thailand, padahal dia dulunya adalah seorang pengusaha yang gak
ngerti apa-apa soal perpolitikan.
Di Indonesia sendiri, mulai banyak kalangan pengusaha
yang udah nyelamin dunia politik dan beberapa diantaranya adalah para pemilik
media besar di Indonesia. Aburizal Bakrie alias Ical atau yang dalam bahasa
jawa artinya ilang ini merupakan ketua umum partai Golkar yang juga pemilik
dari Viva News Group. Kabar tentang
pencalonan dirinya sebagai calon presiden memang sudah terdengar sejak pemilu
tahun 2009. Saat itu dia masuk dalam bursa calon presiden di konvensi partai
Golkar namun dirinya kalah bersaing dengan Jusuf Kalla sang pengusaha asal
Makassar, yang pada Pilpres 2009 lalu berpasangan dengan Wiranto. Di tahun 2014
ini tentunya sangat berbeda dengan tahun 2009, Ical yang memangku jabatan
sebagai Ketum Partai Golkar bakal lebih leluasa dalam memuluskan rencananya
untuk menjadi calon presiden dari partai Golkar. Bahkan iklan dengan slogan
“ARB For President” sudah mulai menggentayangi media-media nasional, apalagi di
media punyanya dia sendiri seperti TV One dan ANTV bahkan di tiap jeda acara
pasti ada iklan ARB bikin sekolah, ARB main di pasar, ARB ngejaring ikan, ARB
diomongin kebaikannya sama anak-anaknya, yang belum ada Cuma iklan ARB main
bola. Padahal dulu waktu piala AFF 2010 ARB kelihatan aji mumpung banget dengan
mengundang Timnas makan malam di kediamannya sebelum final melawan Malaysia.
Menurut inyong sih ya, tantangan yang dihadapi ARB dalam
pencalonan dirinya adalah kasus “Lumpur Lapindo” yang saat ini masih menyembur bur bak pompa
air shimizu yang semburannya kenceng. Bahkan presiden kita bapak Susilo Bambang
Yudhoyono, kalau membicarakan hal ini senengnya bukan main. Pada tanggal 14
Februari 2013 kemarin Bapak Presiden Yang terhormat menyentil bapak ARB soal
kasus lumpur lapindo dengan mengeluarkan pernyataan seperti ini :
“Saya menerima kabar Lapindo belum menunaikan kewajibannya. [Dana] Rp800
miliar belum diselesaikan. Sampaikan kepada Lapindo kalau janji harus ditepati.
Kalau main-main sama rakyat dosanya dunia dan akhirat,”
Kali ini inyong setuju
banget karo pernyataane Yang Terhormat Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tunggakan 800 M ini harus segera dibayarkan ke semua korban lumpur, kasihan
mereka banyak yang kehilangan rumah, dan sawah yang merupakan sumber rejeki-nya
para warga Sidoarjo khususnya warga desa Porong. Dan kasus ini akan menjadi
sasaran empuk buat lawan politiknya di 2014, jika tidak segera diselesaikan.
Berikutnya adalah seorang pengusaha asal Nangroe Atjeh
Darussalam yang bergerak dibidang media
dan dulunya adalah sahabat satu partainya ARB yaitu Surya Paloh. Beliau
merupakan mantan kader Golkar yang merupakan pasukan sakit hati karena kalah
bersaing pada pemilihan ketua umum partai Golkar tahun 2009. Padahal dari
sekian banyak kader partai Golkar yang malu-malu kucing, Dialah yang paling
ngotot ingin menjadi RI 1.
Setelah kalah Surya
Paloh akhirnya membentuk Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) yang mengusung
semangat “Restorasi” sebagai slogannya. Ormas Nasdem sendiri berhasil menggaet
banyak tokoh nasional, salah satunya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono XI. Namun
karena sebetulnya Ormas ini adalah alat Surya Paloh dalam mencalonkan diri pada
2014 nanti, akhirnya Ormas ini pun berubah fungsi menjadi Partai Politik.
Jelas, banyak tokoh yang akhirnya mengundurkan diri dari kepengurusan Nasdem
karena merasa Ormas ini sudah tidak sesuai peruntukannya. Sri Sultan pun
akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.
Setelah berubah format, akhirnya Surya Paloh terpilih
menjadi Ketua Umum partai Nasional Demokrat. Terpilihnya bapak Surya Paloh
sebagai Ketua Umum Nasdem pun menimbulkan kontroversi. Banyak dari pengurus DPC
di berbagai daerah, mundur dari jabatannya. Belum apa-apa partai ini sudah
banyak kisruh yang melanda. Kekisruhan ini pun jadi headline di banyak media
massa dan itu secara otomatis akan berdampak pada menurunnya elektabilitas
partai Nasdem di 2014 nanti. Menarik untuk dinanti adalah debut Partai Nasdem
di Pemilihan Umum tahun 2014. Karena masih banyak masyarakat yang
berekspektasi, Nasdem merupakan pilihan alternatif bagi para pemilih yang sudah
jenuh akan partai konvensional. Juga sosok Surya Paloh yang diusung oleh partai
ini, mampu nggak pak Surya Paloh memenangi Pilpres 2014 ? ya ndeleng bae ngko
yak hehe.
Masih dari pengusaha media, pengusaha yang baru-baru ini
menarik perhatian publik dengan manuver politiknya. Pengusaha ini adalah Hary
Tanoesodibjo, owner dari MNC Group. Pak Hary Tanoe sebelumnya memang gak pernah
kedengeran sama sekali di dunia perpolitikan. Yang membuat namanya naik adalah
ketika Iklan dirinya mendeklarasikan niatnya untuk berpolitik muncul di media.
Pak Hary Tanoe bergabung dengan partai Nasional Demokrat dan menjabat sebagai Ketua
Dewan Pakar dan Ber-partner dengan Surya Paloh.
Namun Keharmonisannya dengan pak Surya Paloh harus
berakhir, rupanya antara Hary Tanoe dan Surya Paloh berbeda paham. Surya Paloh
mengiginkan dirinya terjun langsung dalam struktur sebagai pimpinan partai. Hal
itulah yang membuat Hary Tanoe mundur dari partai Nasdem. Ini adalah pernyataan
oleh Hary Tanoe : “Saya ingin mempertahankan struktur kepengurusan yang ada
saat ini. Namun Pak Surya Paloh menginginkan perubahan dengan terjun langsung
pemimpin partai," Hary Tanoe menginginkan Surya Paloh tetap mengisi jabatan
Dewan Majelis dan mendukung tokoh-tokoh muda yang mengisi jabatan Ketua Umum.
Karena ketidak sepahaman inilah membuat Hary Tanoe Berhenti dari partai Nasdem.
Setelah hengkang dari partai Nasdem, hati nurani bapak Hary Tanoe akhirnya
memutuskan untuk berlabuh di dermaga Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).
Keputusan ini menjadi pemberitaan di media selama kurang lebih seminggu.
Dan yang
terakhir adalah seorang pengusaha mebel yang sangat fenomenal setelah menjadi
Wali Kota Solo. Dia adalah Joko Widodo yang akrab dengan panggilan Jokowi
adalah seorang kader Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP). Kepemimpinannya di Solo selama dua periode sangat
berhasil. Tata letak Kota Solo diperbaiki, pedagang kaki lima ditertibkan namun
tanpa ada huru-hara. Pak Jokowi menerapkan sistem kekeluargaan dimana dia
berdiskusi sembari makan malam bersama dengan para PKL sambil mencari solusi
yang terbaik. Pak Jokowi juga terkenal dengan kebiasaan “blusukan” ke
kampung-kampung, terjun kedalam masyarakat untuk melihat langsung kondisi
masyarakat dan meninjau apa yang sedah dibutuhkan masyarakat.
Namanya
semakin melejit ketika Pak Jokowi ikut bertarung dalam pemilukada dengan
pasangannya adalah Basuki Tjahya alias Ahok. Secara mengejutkan pasangan ini
mengungguli pasangan dengan hasil survei tertinggi yaitu Foke-Nara. Gaya
memimpinnya yang santai dan memperlihatkan kesetaraannya dengan masyarakat
inilah yang menarik simpati dari warga Jakarta. Adakah peluang untuk Pak Jokowi
bertarung dalam bursa Pilpres 2014 ? kemungkinan itu ane rasa tetep ada gan. Apalgi
saat ini PDIP kekurangan kader yang setara dengan Pak Jokowi. Namun Pak Jokowi
sendiri sering melontarkan pernyataan bahwa dia hanya akan fokus membangun
Jakarta sampai masa baktinya selesai. Tapi ane sendiri berekspektasi kalo Pak
Jokowi maju jadi calon Presiden dan terpilih akan menjadi seorang pemimpin yang
amanah dan tulus untuk mengabdi kepada masyarakat.
Jika menjadi
presiden apakah para entrepreneur tadi memberikan gaya kepemimpinan yang beda ?
menurut David Osborne dalam bukunya yang judulnya panjang banget Reinventing
Goverment: How Entreprenial Spirit Is Transforming Public Sector. menganjurkan
agar sebaiknya pemerintahan dikelola selayaknya mengelola sebuah perusahaan
sawasta yang sudah Go-Public. Prinsip-prinsip dan kiat yang membuat sebuah
persahaan swasta maju harus menjadi model dalam menjalankan pemerintahan. Apa
yang ditulis oleh Osborne, kini sudah diterapkan dalam pemerintahan negara
modern.
Yang bikin
Capres dari kalangan Pengusaha lebih unggul itu kemampuannya dalam menerapkan semangat
kewirausahaan swasta kedalam tubuh pemerintahan. Dibandingkan dengan Capres
dari sektor lain, kemampuan pengusaha dalam bidang entrepreneurship itu lebih
unggul. Jika dapat diterapkan secara konsisten, akan dapat membawa perubahan
yang sangat signifikan dalam pemerintahan.
Namun dalam
berpolitik agaknya sangat sulit bagi para pengusaha untuk bersaing dalam
mencalonkan diri sebagai presiden apabila dirinya tidak mempunyai popularitas
yang kuat. Integritasnya boleh saja baik dan memiliki konsep yang baik dalam
mengelola negara, namun apabila popularitasnya kurang maka habislah sudah.
Public trust atau kepercayaan masyarakat juga tak kalah pentingnya. Semakin
baik citranya dimata masyarakat, semakin besar pula peluangnya untuk menang.
Dan tantangan terbesar bagi calon dari sektor pengusaha adalah bagaimana
caranya supaya si calon ini disukai oleh banyak rakyat. Di Indonesia ini yang
wilayahnya sebagian besar adalah pedesaan menjadi tantangan tersendiri dalam
meningkatkan popularitas karena sudah pasti popularitas mereka kalah jauh
dibandingkan dengan presiden atau wakil presiden yang sedang memimpin saat ini.
Ketertinggalan itu dapat dikejar kalau si calon ini memiliki tunggangan politik
yang sangat masif dan efektif.
Kabehan
calon sing tek sebut nang duwur jane sih durung pasti bakal nyalon apa ora.
Sampai saat ini mereka hanyalah orang-orang yang diisukan bakal maju. Tapi sing
penting, angger pada sida nyalon, pengusaha-pengusaha tadi bakal membuat peta
persaingan perebutan kursi RI 1 dan RI 2 semakain menarik untuk diikuti.
Sumber dan Referensi :
“J.A, Denny ; Surdiasis, Frans. 2006. Melewati
perubahan : sebuah catatan atas transisi demokrasi Indonesia : kumpulan tulisan
di Jawa pos & Indopos. Yogyakarta:Lkis.”