Kamis, 20 Juni 2013

Membuka Asa Pengusaha (tugas SPI)

Membuka Asa Para Pengusaha
Oleh : Hanifan Satria (F1C012024)

            Apa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini ? ditengah kondisi negara kita yang makin semrawut dan timbulnya krisis kepemimpinan di masyarakat, Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang dapat memberikan terobosan baru, pemimpin yang mempunyai pola pikir praktis bukan hanya jago dalam hal mengkonsepkan sesuatu. Presiden kita yang sekarang ini menurut gua merupakan sebuah anomali, yakali presiden suka banget ngeluh dan berprihatin ria. Dan ini jadi aneh karena pak SBY presiden yang basic-nya adalah seorang militer. Militer mana yang doyan ngadu dan ngeluh ? gua juga belum pernah nemu yang kayak gini, sekalinya nemu dia adalah presidene dhewek loh sodara-sodara.
            Ini menjadi sebuah ketimpangan ketika dulu kita mengalami masa dimana negara kita dipimpin oleh seorang militer. Yaitu pak Harto dengan kediktatorannya, membungkam siapa saja yang akan menghadangnya, menyingkirkan siapa saja yang akan menentangnya, dan menjatuhkan siapa saja yang anti padanya. Berkat kediktatorannya, ia berhasil menjadi presiden dengan periode kepemimpinan terlama yaitu 32 tahun. Media dikekang dan tak banyak bersuara, sudah cukup banyak media yang dibredel oleh pak Harto. Namun gaya kepemimpinan seperti pak Harto tidak disukai oleh masyarakat, akhirnya pada bulan mei tahun 1998 Pak Harto mengundurkan diri sebagai presiden akibat dari banyaknya tuntutan masyarakat yang menginginkan pak Harto mundur.
            Masa lalu yang kelam itu sekarang udah saatnya ditinggalkan, yuk mari kita “Move On” ke era “Reformasi”. Era dimana Demokrasi yang agung dielu-elukan. Sistem Politik Indonesia yang sekarang menganut azas “Demokrasi” memperkenalkan kompetisi bebas untuk merebut kekuasaan. Kita gak terpaku lagi sama calon-calon konvensional dari tokoh besar partai politik dan kalangan militer namun dunia usaha juga menjadi salah satu sumber pemimpin yang menarik untuk dicalonkan.  Sebetulnya di Amerika Serikat nun jauh disana sudah banyak para pengusaha yang dengan pedenya mencalonkan diri sebagai calon presiden, beberapa diantaranya adalah Ross perot sang pendiri perusahan EDS (Electronic Data System) dan juga Steve Forbes si mpunya majalah “Forbes”. Sebetulnya sih ga usah jauh-jauh ke Amrik, di Thailand aja ada Thaksin Shinawatra yang saking kayanya dia bisa beli klub bola yang berkompetisi di Premier League Manchester City. Thaksin pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand, padahal dia dulunya adalah seorang pengusaha yang gak ngerti apa-apa soal perpolitikan.
            Di Indonesia sendiri, mulai banyak kalangan pengusaha yang udah nyelamin dunia politik dan beberapa diantaranya adalah para pemilik media besar di Indonesia. Aburizal Bakrie alias Ical atau yang dalam bahasa jawa artinya ilang ini merupakan ketua umum partai Golkar yang juga pemilik dari Viva News Group.  Kabar tentang pencalonan dirinya sebagai calon presiden memang sudah terdengar sejak pemilu tahun 2009. Saat itu dia masuk dalam bursa calon presiden di konvensi partai Golkar namun dirinya kalah bersaing dengan Jusuf Kalla sang pengusaha asal Makassar, yang pada Pilpres 2009 lalu berpasangan dengan Wiranto. Di tahun 2014 ini tentunya sangat berbeda dengan tahun 2009, Ical yang memangku jabatan sebagai Ketum Partai Golkar bakal lebih leluasa dalam memuluskan rencananya untuk menjadi calon presiden dari partai Golkar. Bahkan iklan dengan slogan “ARB For President” sudah mulai menggentayangi media-media nasional, apalagi di media punyanya dia sendiri seperti TV One dan ANTV bahkan di tiap jeda acara pasti ada iklan ARB bikin sekolah, ARB main di pasar, ARB ngejaring ikan, ARB diomongin kebaikannya sama anak-anaknya, yang belum ada Cuma iklan ARB main bola. Padahal dulu waktu piala AFF 2010 ARB kelihatan aji mumpung banget dengan mengundang Timnas makan malam di kediamannya sebelum final melawan Malaysia.
            Menurut inyong sih ya, tantangan yang dihadapi ARB dalam pencalonan dirinya adalah kasus “Lumpur Lapindo”  yang saat ini masih menyembur bur bak pompa air shimizu yang semburannya kenceng. Bahkan presiden kita bapak Susilo Bambang Yudhoyono, kalau membicarakan hal ini senengnya bukan main. Pada tanggal 14 Februari 2013 kemarin Bapak Presiden Yang terhormat menyentil bapak ARB soal kasus lumpur lapindo dengan mengeluarkan pernyataan seperti ini :
“Saya menerima kabar Lapindo belum menunaikan kewajibannya. [Dana] Rp800 miliar belum diselesaikan. Sampaikan kepada Lapindo kalau janji harus ditepati. Kalau main-main sama rakyat dosanya dunia dan akhirat,”
Kali ini inyong setuju banget karo pernyataane Yang Terhormat Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tunggakan 800 M ini harus segera dibayarkan ke semua korban lumpur, kasihan mereka banyak yang kehilangan rumah, dan sawah yang merupakan sumber rejeki-nya para warga Sidoarjo khususnya warga desa Porong. Dan kasus ini akan menjadi sasaran empuk buat lawan politiknya di 2014, jika tidak segera diselesaikan.
            Berikutnya adalah seorang pengusaha asal Nangroe Atjeh Darussalam yang bergerak dibidang  media dan dulunya adalah sahabat satu partainya ARB yaitu Surya Paloh. Beliau merupakan mantan kader Golkar yang merupakan pasukan sakit hati karena kalah bersaing pada pemilihan ketua umum partai Golkar tahun 2009. Padahal dari sekian banyak kader partai Golkar yang malu-malu kucing, Dialah yang paling ngotot ingin menjadi RI 1.
            Setelah kalah Surya  Paloh akhirnya membentuk Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) yang mengusung semangat “Restorasi” sebagai slogannya. Ormas Nasdem sendiri berhasil menggaet banyak tokoh nasional, salah satunya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono XI. Namun karena sebetulnya Ormas ini adalah alat Surya Paloh dalam mencalonkan diri pada 2014 nanti, akhirnya Ormas ini pun berubah fungsi menjadi Partai Politik. Jelas, banyak tokoh yang akhirnya mengundurkan diri dari kepengurusan Nasdem karena merasa Ormas ini sudah tidak sesuai peruntukannya. Sri Sultan pun akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.
            Setelah berubah format, akhirnya Surya Paloh terpilih menjadi Ketua Umum partai Nasional Demokrat. Terpilihnya bapak Surya Paloh sebagai Ketua Umum Nasdem pun menimbulkan kontroversi. Banyak dari pengurus DPC di berbagai daerah, mundur dari jabatannya. Belum apa-apa partai ini sudah banyak kisruh yang melanda. Kekisruhan ini pun jadi headline di banyak media massa dan itu secara otomatis akan berdampak pada menurunnya elektabilitas partai Nasdem di 2014 nanti. Menarik untuk dinanti adalah debut Partai Nasdem di Pemilihan Umum tahun 2014. Karena masih banyak masyarakat yang berekspektasi, Nasdem merupakan pilihan alternatif bagi para pemilih yang sudah jenuh akan partai konvensional. Juga sosok Surya Paloh yang diusung oleh partai ini, mampu nggak pak Surya Paloh memenangi Pilpres 2014 ? ya ndeleng bae ngko yak hehe.
            Masih dari pengusaha media, pengusaha yang baru-baru ini menarik perhatian publik dengan manuver politiknya. Pengusaha ini adalah Hary Tanoesodibjo, owner dari MNC Group. Pak Hary Tanoe sebelumnya memang gak pernah kedengeran sama sekali di dunia perpolitikan. Yang membuat namanya naik adalah ketika Iklan dirinya mendeklarasikan niatnya untuk berpolitik muncul di media. Pak Hary Tanoe bergabung dengan partai Nasional Demokrat dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar dan Ber-partner dengan Surya Paloh.
            Namun Keharmonisannya dengan pak Surya Paloh harus berakhir, rupanya antara Hary Tanoe dan Surya Paloh berbeda paham. Surya Paloh mengiginkan dirinya terjun langsung dalam struktur sebagai pimpinan partai. Hal itulah yang membuat Hary Tanoe mundur dari partai Nasdem. Ini adalah pernyataan oleh Hary Tanoe :  “Saya ingin mempertahankan struktur kepengurusan yang ada saat ini. Namun Pak Surya Paloh menginginkan perubahan dengan terjun langsung pemimpin partai," Hary Tanoe menginginkan Surya Paloh tetap mengisi jabatan Dewan Majelis dan mendukung tokoh-tokoh muda yang mengisi jabatan Ketua Umum. Karena ketidak sepahaman inilah membuat Hary Tanoe Berhenti dari partai Nasdem. Setelah hengkang dari partai Nasdem, hati nurani bapak Hary Tanoe akhirnya memutuskan untuk berlabuh di dermaga Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Keputusan ini menjadi pemberitaan di media selama kurang lebih seminggu.
            Dan yang terakhir adalah seorang pengusaha mebel yang sangat fenomenal setelah menjadi Wali Kota Solo. Dia adalah Joko Widodo yang akrab dengan panggilan Jokowi adalah seorang  kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kepemimpinannya di Solo selama dua periode sangat berhasil. Tata letak Kota Solo diperbaiki, pedagang kaki lima ditertibkan namun tanpa ada huru-hara. Pak Jokowi menerapkan sistem kekeluargaan dimana dia berdiskusi sembari makan malam bersama dengan para PKL sambil mencari solusi yang terbaik. Pak Jokowi juga terkenal dengan kebiasaan “blusukan” ke kampung-kampung, terjun kedalam masyarakat untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan meninjau apa yang sedah dibutuhkan masyarakat.
            Namanya semakin melejit ketika Pak Jokowi ikut bertarung dalam pemilukada dengan pasangannya adalah Basuki Tjahya alias Ahok. Secara mengejutkan pasangan ini mengungguli pasangan dengan hasil survei tertinggi yaitu Foke-Nara. Gaya memimpinnya yang santai dan memperlihatkan kesetaraannya dengan masyarakat inilah yang menarik simpati dari warga Jakarta. Adakah peluang untuk Pak Jokowi bertarung dalam bursa Pilpres 2014 ? kemungkinan itu ane rasa tetep ada gan. Apalgi saat ini PDIP kekurangan kader yang setara dengan Pak Jokowi. Namun Pak Jokowi sendiri sering melontarkan pernyataan bahwa dia hanya akan fokus membangun Jakarta sampai masa baktinya selesai. Tapi ane sendiri berekspektasi kalo Pak Jokowi maju jadi calon Presiden dan terpilih akan menjadi seorang pemimpin yang amanah dan tulus untuk mengabdi kepada masyarakat.

           
            Jika menjadi presiden apakah para entrepreneur tadi memberikan gaya kepemimpinan yang beda ? menurut David Osborne dalam bukunya yang judulnya panjang banget Reinventing Goverment: How Entreprenial Spirit Is Transforming Public Sector. menganjurkan agar sebaiknya pemerintahan dikelola selayaknya mengelola sebuah perusahaan sawasta yang sudah Go-Public. Prinsip-prinsip dan kiat yang membuat sebuah persahaan swasta maju harus menjadi model dalam menjalankan pemerintahan. Apa yang ditulis oleh Osborne, kini sudah diterapkan dalam pemerintahan negara modern.
            Yang bikin Capres dari kalangan Pengusaha lebih unggul itu kemampuannya dalam menerapkan semangat kewirausahaan swasta kedalam tubuh pemerintahan. Dibandingkan dengan Capres dari sektor lain, kemampuan pengusaha dalam bidang entrepreneurship itu lebih unggul. Jika dapat diterapkan secara konsisten, akan dapat membawa perubahan yang sangat signifikan dalam pemerintahan.
            Namun dalam berpolitik agaknya sangat sulit bagi para pengusaha untuk bersaing dalam mencalonkan diri sebagai presiden apabila dirinya tidak mempunyai popularitas yang kuat. Integritasnya boleh saja baik dan memiliki konsep yang baik dalam mengelola negara, namun apabila popularitasnya kurang maka habislah sudah. Public trust atau kepercayaan masyarakat juga tak kalah pentingnya. Semakin baik citranya dimata masyarakat, semakin besar pula peluangnya untuk menang. Dan tantangan terbesar bagi calon dari sektor pengusaha adalah bagaimana caranya supaya si calon ini disukai oleh banyak rakyat. Di Indonesia ini yang wilayahnya sebagian besar adalah pedesaan menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan popularitas karena sudah pasti popularitas mereka kalah jauh dibandingkan dengan presiden atau wakil presiden yang sedang memimpin saat ini. Ketertinggalan itu dapat dikejar kalau si calon ini memiliki tunggangan politik yang sangat masif dan efektif.
            Kabehan calon sing tek sebut nang duwur jane sih durung pasti bakal nyalon apa ora. Sampai saat ini mereka hanyalah orang-orang yang diisukan bakal maju. Tapi sing penting, angger pada sida nyalon, pengusaha-pengusaha tadi bakal membuat peta persaingan perebutan kursi RI 1 dan RI 2 semakain menarik untuk diikuti.





Sumber dan Referensi :
“J.A, Denny ; Surdiasis, Frans. 2006. Melewati perubahan : sebuah catatan atas transisi demokrasi Indonesia : kumpulan tulisan di Jawa pos & Indopos. Yogyakarta:Lkis.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar