Selasa, 24 Desember 2013

Hari Ibu dan Anak - Anak Sumampir

Kulaju motorku dari kampus dalam rangka melarikan diri dari agenda musyawarah mahasiswa himpunan mahasiswa jurusanku menuju ke suatu tempat, yang menjanjikan keceriaan. Sekolah dan Perpustakaan Rakyat Bhinneka Ceria. Kuingat aku ada agenda lain, menjadi Master of Ceremony alias MC di acara "Pesta Ceria" pestanya mereka, anak - anak Sumampir, untuk ibunda tercinta.

Kuhentikan motorku di depan sekolah, kuparkirkan si blade dengan segeletaknya. Aku terburu untuk masuk ke dalam karena sangat ingin melihat wajah ceria mereka yang sedang berlatih, dan juga menemui cintaku yang sedang mengajarkan anak - anak itu menari. Suara mereka terdengar nyaring dari luar, kira ku mereka sedang antusias berlatih, ternyata benar. Segera aku berjalan menuju ke dalam. Di depan pintu ada Farid, sang pentolan dari gerombolan anak - anak itu menyapaku "hoy mas" ku balas dengan senyum terbaik Indonesia "hoy juga." Di dalam anak - anak itu sedang asyik berlatih, ada dua orang perempuan kecil nan manis yang sedang berlatih menyanyi, ada pula beberapa anak yang sedang menghafalkan bait - bait puisi, dan ada juga yang sibuk bercanda, lari sana - sini, dan sebagainya. Melihat mereka yang jadi nakal dan bandel itu aku tidak heran. Karena di sekolah formal, mereka dibentuk untuk sekedar jadi anak manis yang penurut. Dan aku bahagia melihat mereka yang riang gembira seolah terlepas dari kekangan itu dan bebas "nakal" semau mereka.

Waktu menunjukkan pukul setengah 6 sore, aku yang tahu mau nge-mc tersadar kalau diriku belum tersentuh air, sabun, shampo dan pasta gigi sedari pagi, segera memulangkan diri dan sekaligus mengantarkan pulang cintaku yang ternyata juga sama.

Ritual terlarang alias mandi sudah kulaksanakan, lalu ku memilih baju yang sekiranya akan membuatku terlihat keren di atas panggung. Sudah semua ku lakukan. Selanjutnya ku jemput cintaku di kosannya. Ingin ku katakan ia cantik hari itu, tapi biar kusimpan saja sendiri. Takut Gede Rasa jadinya. Ku laju lagi motorku menuju sekolah. Lagi - lagi kuparkir si blade dengan segeletaknya. Kali ini suara yang terdengar makin nyaring. Setelah aku masuk ke dalam ternyata mereka sedang bersiap - siap. Mereka kaum laki - laki cilik yang melihatku datang langsung menyapaku, "mas, mas, main tebak - tebakan yuk lah !" dengan logat khas Banyumasan mereka mengajak ku bermain tebak - tebakan. "Mas, nyong nduwe tebak - tebakan. Nasi - nasi apa, sing teyeng mabur ?" aku pura - pura tidak tahu saja biar mereka senang. Sebenarnya aku tahu, pasti jawabannya Nasi yang nempel di pesawat. Basi menurutku, tapi kuingat dulu waktu aku masih kecil tebak - tebakan itu pernah lucu dimasanya. Setelah main tebak - tebakan, salah satu dari mereka kaka namanya lalu menghampiriku dan memanjati tubuhku, dengan sigap ku gendong dia. Tangannya dijulurkan ke atas, jarinya dikepal layaknya superman. Setelah kugendong sampai atas Kaka bersorak "yeeeaaaaay"  teman - temannya ikut menyambut sorakan kaka. Sekolah menjadi tambah berisik karena sorakan mereka. Kebahagiaan tersendiri bagiku melihat mereka tertawa lepas, meski akhirnya aku merasa lelah karena mereka iri minta di gendong seperti kaka sehingga aku harus bergantian menggendong mereka satu persatu.

Acara sudah mau dimulai, dan hujan turun. Panggung yang ada di kebon singkong sumampir basah. Para Relawan Bhinneka Ceria langsung cepat tanggap dan memindahkan panggung ke dalam sekolah. Mereka yang ku kenal begajulan dan belecetan itu ternyata bisa juga kerja keras haha. Anak - anak pun beramai - ramai kembali ke sekolah karena cuaca menyebabkan acara harus dipindah didalam ruangan sekolah Bhinneka Ceria.

Acara Mulai, aku naik ke atas panggung untuk membuka acara. Tak perlu rasanya aku menjelaskan apa yang aku lakukan diatas panggung. Kurasa semua sudah tau apa yang biasa dilakukan seorang MC. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu "Kasih Ibu" mereka bernyanyi disaksikan oleh ibunda mereka tercinta. Ditengah - tengah mereka bernyanyi aku teringat ibuku, yang memang nyebelin, namun entah mengapa ngangenin. Setelah mereka bernyanyi, mereka memberikan bunga kepada ibundanya masing - masing. Kulihat ibu dari anak - anak itu tersenyum mendapatkan bunga dari anaknya. Ada yang menciun kening anaknya, memeluk erat anaknya, mencubit pipi dan banyak lagi yang aku lihat tapi malas aku tuliskan disini.

Semua rangkaian acara telah selesai. Aku lelah juga memandu acara anak - anak haha. Sejenak ku terduduk, kembali lagi ku teringat ibuku yang nyebelin itu. Terlintas dipikiranku saat itu, aku ingin menjadi kecil kembali. Dimana kasih sayang seorang Ibu sangat kurasa, bahkan sampai sekarang. Ia mengarahkanku dengan sepenuh tenaga hingga aku menjadi besar seperti ini. Kadang aku berfikir, apa aku sudah membalas semuanya ? Aku sendiri tahu, jawabannya belum. Maaf Ibu, sedari kecil aku tidak pernah berprestasi. Tapi ibu harus tahu, aku disini sekarang sedang berjuang menjadi sesuatu. Sesuatu yang dapat membuat ibu bahagia, sesuatu yang dapat membuat ibu tersenyum, dan sesuatu yang dapat membuat ibu bangga.

Selamat Hari Ibu. Untuk seluruh Ibu - Ibu di Dunia :)

Hanifan Satria.

Sabtu, 14 Desember 2013

Aku dan Kopi

"Beri aku secangkir kopi di pagi hari, maka aku akan merubah dunia." Sebuah rangkaian kata yang pernah kulihat di sebuah kafe di kota satria. Aku setuju dengan rangkaian kata itu. Aku adalah seorang pengagum, penggemar, dan penggila kopi.

Sejarah panjang terbentang jika aku mencoba menerawang bagaimana aku bisa secinta ini dengan kopi. Aku selalu ingat, ketika aku masih berfantasi dengan imaji masa kecilku, ayah ku selalu menyendokiku air hitam pekat itu. Tidak salah jika akhirnya, aku selalu mencuri-curi seseruput air kopi dari gelas ayah ku. Nakal, tapi aku suka.

Banyak orang yang memaknai kopi hanya sebatas minuman yang bisa membuat kita menghilangkan kantuk. Bahkan para ekstrimis pembenci kebiasaan ku mengopi sering bilang bahwa kopi itu jahat, suatu saat ginjalmu akan kenapa-napa. Tapi aku punya pandangan lain tentang secangkir kopi.

Kopi, entah apapun jenisnya selalu membuat semua pecintanya jatuh, dan akan selamanya jatuh cinta dengannya. Dan bagi para pecandunya, kopi itu cinta. Hanya ku bolak-balik saja. Tapi nyatanya begitu.

Didalam secangkir kopi, terdapat rindu yang selalu berseru. Dikala para pecintanya tertekan dengan semua aktivitas bumi yang kian menjemukan, secangkir kopi bagai mata yang menatap raja ampat. Ahh surga. Dan tahukah kalian, ketika lidah menyentuh tepi cangkir dan akhirnya menemukan air hitam pekat itu rasa rindu yang sebegitu dalam terlampiaskan sudah. Rasanya sama, seperti menemukan cinta yang lama dinanti. Percayalah.

Ada lagi, ketika air kopi mulai menjalari seluruh rongga mulut, firdaus rasanya mendekat. Lebay memang diksiku. Ah tak apalah, memang itu yang kurasa. Mataku mungkin akan terpejam dalam, menikmati cinta yang larut dalam air hitam pekat itu. Otakku yang jarang berpikir pun mendadak tambah malas berpikir dan hanya terkonsentrasi pada cinta yang larut tadi.

Lewat sudah rongga mulut, melintasi tenggorokan yang akhirnya akan disaring racunnya di hati lalu akan berlabuh di wc sabagai air seni. Terlihatnya sia-sia ya, tapi sepeninggal ia banyak efek yang dirasa. Semangatku meninggi, mataku seperti terkena tetesan obat mata, penatku lenyap dibawa hangatnya secangkir cinta. Aaaah sudahlah, aku cinta kopi. Apapun alasannya apapun yang kurasa, aku sudah jatuh. Bahkan sebetulnya banyak yang ingin aku deskripsikan tentang secangkir kopi dan aku. Hanya saja cinta selalu sulit dideskripsikan. Ini bukan alibiku, tapi bisa jadi.

Dan belakangan ini, sesorang berkata kepadaku "kalau suatu saat kamu lelah berjuang, ayok kita bikin kopi, kita ngopi, lalu saling bertukar cerita." aaaahh, aku sudah menemukan Cinta + Cinta jadi luar biasa Cinta. Akhirnya, aku punya partner gila sekaligus pecinta kopi seperti yang pernah aku bayangkan selama ini. Sepertinya Cinta sudah berpihak padaku. Dan akan kujaga keberpihakanmu. Absurdnya Cinta.

Rabu, 11 Desember 2013

Baiknya Kutumpahkan

Tetesan embun pagi itu kurasakan adanya. Membasahi hatiku yang sudah lama kering karena menanti, mengharap, dan menaruh masa depanku pada manisnya masa lalu yang selalu kusayangi.

Jalanku terjal untuk sampai pada titik ini, dan aku tidak sungkan untuk mengakui salahku karena terlalu menyayangi masa lalu hingga aku pernah menyakiti. Bukan seperti itu maksudku. Aku tidak punya niatan apapun, hanya saja aku tidak akan bisa berbohong saat itu aku masih menyayangi masa laluku. Maafkan kepecundanganku yang tak pernah mengucap maaf.

Itu semua sudah berlalu dan harus kuceritakan satu hal tentang aku yang berdiri di titik ini. Titik dimana aku merasa aku sudah usai. Jalan terjalku sudah finish. Tapi bukan berarti aku boleh lengah. Mungkin setelah jalan terjal ini terlewati, akan ada hujan badai. Aku hanya harus bersiap, menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi.

Semesta rasanya tahu, aku yang mulai keram pipi ini masih terbuai dengan euforia finish dari jalan terjal itu. Dan ia pasti akan mengirimkan sinyalnya melalui alam jikalau aku harus terus berjuang, mengubah euforia ini menjadi sesuatu yang melebihi itu: Sebuah kebahagiaan, yang abadi.

Ia Belinda. Orang yang ternyata ada di ujung jalan terjal itu. Dia hadir, ketika aku tengah muak sampai putus asa akan mencari dan menanti.

Tatapan mata pertamaku dengannya malam itu, rasanya bagai menemukan dunia baru. Dunia dimana aku mulai mengerti siapa sebenarnya aku. Atau mungkin aku terjebak pada rumah kaca, yang kemanapun aku melangkah menjelajahi rumah itu, yang aku lihat hanyalah pantulan diriku sendiri.

Saat ini, aku memohon izin pada semesta. Agar semesta merestui aku yang keram pipi ini akan terus selamanya begini. Berhenti mencari, berharap dan menaruh. Tetapi mulai menata, merangkai, dan merancang dunia baruku bersama dia. Belinda.


Senin, 02 Desember 2013

Dongeng Orang Gila yang Beneran Gila

Gak tau, sebuah kata yang terlontar dari orang gila yang saat ini duduk disebelahku. Terus, dia nyuruh aku buat nulis terus. Agar semakin gila dan selalu gila apaan ? kaaa kata-katanya. Oke akhirnya dia diam karena semua kata-katanya aku tulis ditulisan ini.
Terus aku bertanya, "kalo laptonya baterainya lowbet gimana ?" "ya tinggal di charge" "layaknya hati yang lowbet harus diisi lagi" begitu kata dia yang berjanji mau diam tetapi akhirnya ngomong lagi. terus dia ngomong oke diem lagi.

malam itu, hari apa dan tanggal berapa aku lupa. yang jelas malam itu ada acara kue lapis. aku gak pernah liat orang gila ini sebelumnya. entah kenapa aku jadi pengen tahu dia gila beneran apa enggak. dan ternyata sepulang dari acara kue lapis. aku tidur-tiduran terus aku ngebuka twitter. ada orang gila follow aku. biasalah artis. terus, aku follow back dia padahal artis gak pernah follow back fansnya loh. lalu, entah kenapa akhirnya aku minta nimernya dia. karena aku sadar ternyata dia lebih artis dari aku. yesss, kata orang gila yang duduk disampingku ini. dia maksa loh biar aku nulis gini.

aku dapet juga tuh nomernya, tadinya sih mau nggak di save, cuma karena aku penasaran akhirnya aku sms duluan. yaudah. lanjut ya, setelah aku sms, aku bilang sama dia kalo lagi ada tugas suruh neliti konflik dalam keluarga, karena aku lagi smsan sama orang gila ini, yaudah akhirnya dia yang aku interview.

udah aku interview, pulangnya aku sms dia lagi. ternyata dia lagi sakit batuk. terus, katanya pipinya ada merah-merah gitu. akhirnya, aku dengan jiwa pahlawan dan inisiatif yang tinggi. aku mau deh nganterin dia ke RS. kasian soalnya dia jomblo, yang lagi nulis juga jomblo sih. yaudah deh, aku anterin dia ke RS, malem itu aku deg-degan soalnya aku belum pernah boncengin orang gila, biasanya sih yang diboncengin pada waras.

sampe juga di RS, aku nulis Rumah Sakitnya RS aja ya, biar cepet. oke, akhirnya kita duduk berdua di depan poli kulit dan kelamin bukan kulit kelamin. karena dokternya juga artis, jadi nunggunya lama deh. akhirnya dokternya dateng juga. orang gila ini masuk kedalem ruang periksa. gak begitu lama dia keluar. mukanya kayak nahan ketawa gitu. terus dia duduk disamping aku lagi. habis itu dia ngomong "kamu tau nggak aku kenapa ?" "dokternya bilang, mbak tau yang di tv nggak ?" "mbaknya kena tomcat tau." hahaha aku ketawa deh, kasian yah dia, udah gila, kena tomcat lagi. kalo ada yang sedih boleh donasikan sebagian receh anda kok.

abis itu aku anterin dia pulang, eh tapi aku laper, dia juga. jadinya kita makan sate deh. penting gak ? katanya sih nggak. ah tapi apa perduli kalian. aku sih kenyang makan sate, kalo dia kenyang banget. aku rasa ini lebih penting daripada yang tadi. karena ini menyangkut urusan perut dengan sistem pencernaannya. tadinya mau sekalian cerita sistem pencernaan. tapi aku yakin, kalian lebih pintar kok daripada aku. karena kalian tidak gila.

ah, mau cerita semuanya tapi males. yaudah dicepetin ajadeh. dan malam ini, aku duduk disamping orang gila itu, kalo kalian mau tahu, adanya tempe. jayus ya ? haha. ini serius loh, kalo kalian pengen tau, namanya abel, twitternya cari aja sendiri ya, nanti kalian pada genit sama dia, lagian pada ga sanggup juga sih genit sama orang gila. kalo aku kan gila, makanya aku sangat sanggup. kalian harus tau ini, dia adalah orang yang membuatku jadi beneran gila, walaupun sebenarnya udah gila. tapi tetep gilaan dia. tadi aku habis disuapin loh sama dia haha. oke fokus. eh, aku disuapin lagi dong.

aku mau dijejelin cicak lagi, dasar orang gila. oke lanjut ya, dimalam yang ramai ini, aku gak ngerasa kesepian karena ramai. tapi, terkadang ada orang yang merasa kesepian ditengah keramaian. tapi itu bukan aku, karena disampingku ada orang gila yang selalu menemaniku untuk menjadi gila seutuhnya. ada satu yang terlintas dipikiranku saat ini, mau nggak dia terus jadi temen gilaku ? karena aku bingung dengan siapa lagi aku harus jadi gila jika ia nggak mau gila lagi. aku selalu berdoa kepada Tuhan agar ia selalu gila. semoga ia selalu gila. duh gak ada ide lagi mau nulis apa. yaudah kuakhiri aja tulisan ini. terus, aku disuapin lagi. kata dia, lanjut ini deadline loh, dasar orang gila.

mungkin ini akan menjadi paragraf terakhir, jika aku tidak muter-muter lagi nulisnya, sumpah ini akan jadi yang terakhir. sekarang aku lagi mikirin closing statement buat tulisan ini. ternyata aku harus muter-muter lagi nulisnya. tuh kan, ah elah. katanya biar aku fokus dia mau diem, oke. percuma juga aku gabakalan fokus. fokusku hanya untuk orang yang ada disampingku ini. sekarang malah bingung dia diem. ketahuan deh ini tulisan orang bingung. tanganku gemeteran loh, aku lagi mikir ada gak sih orang gila pacaran sama orang gila ? tapi aku maunya ada. hai orang gila yang ada disampingku, maukah kamu menjadi pacar gilaku ?

Minggu, 01 Desember 2013

Sumitro yang mencari

Hari sudah sore, matahari mulai berpindah tempat ke tempat yang membutuhkan sinarnya. Sedangkan shift jaga malam digantikan oleh bulan yang walaupun sinarnya tak seterang matahari tapi selalu berusaha untuk menerangi gelapnya malam.
Semua tanda alam itu adalah alarm Sumitro yang suka dipanggil katro sama Ia untuk merapihkan lapaknya sekaligus mengakhiri aktivitas jualannya.

Setelah semuanya terkukut rapih, sumitro mendorong gerobaknya menuju istana tempat sumitro mengistirahatkan tubuhnya. Istananya tidak begitu jauh dari tempat dia berjualan, kira-kira 1 kilometer lah tapi tetap terasa capek. Apalagi sambil dorong gerobak, belum lagi kena macet di jalan, maklum lah, gerobak tak memiliki kemampuan menyelip sedinamis motor. Reksiko berdagang di tepi jalan protokol.

Tubuh sumitro yang jangkung dan kerempeng itu dengan lesu mendorong gerobaknya menuju istana alias rumahnya. Rambutnya yang gondrong terkibas - kibas bak model iklan sampo karena angin berhembus kencang sore itu. Asap knalpot kendaraan yang melintas membuat hidungnya kembang kempis karena dia males menghirup karbon hasil pembakaran kendaraan - kendaraan yang semakin hari kian tak terbendung jumlahnya.

Sampai di suatu lampu merah, Sumitro melihat dari kejauhan. Seorang wanita berparas ayu, rambutnya panjang, matanya dua, hidungnya satu lubangnya dua, bibirnya satu dan kupingnya dua. Sedang menyebrang jalan melewati zebra cross.

"dina bukan yah ?"
Sumitro membatin.
Perempuan itu semakin mendekat kearah Sumitro.
"itu dina. Jelas itu dina."
Sumitro meyakini dirinya.
"Dina Dina !!"
Panggil Sumitro yang ternyata sudah yakin.
"Troooooo"
Balas dina yang menengok lalu histeris.
Setelah berhasil menyebrang jalan, Dina menghampiri Sumitro yang langsung meminggirkan gerobaknya ke tepi jalan. Bangku plastik yg ditaruh diatas gerobak diturunkannya agar dia bisa berbincang sambil duduk dengan Dina.

"Troo, apa kabar ?" sapa dina kepada Sumitro yang membuka percakapan diantara mereka berdua. "Aku baik din, kamu kemana aja ? Ia tadi siang main ke lapak ku. Katanya kamu ingkar janji sama Ia ?" si Sumitro langsung nembak tanpa basa-basi. Membuat Dina yang tadinya sumringah karena sudah lama tak bersua dengan Sumitro, menjadi diam dan kaku, kemudian bibirnya mulai bergetar, diikuti dengan air mata yang perlahan menetes dari kedua bola mata Dina. Sumitro yang membaca bahasa tubuh Dina jadi ikut terdiam.
"din, maafkan aku. Bukan mau aku untuk mengulik masalahmu. Hanya aku sedih melihat sahabatku Ia. Ia jadi sering 3M, Merenung, Membisu, dan Manyun. Tapi itu hak kamu din, mau menjawab pertanyaanku atau tidak, aku mengerti."
Dina beranjak dari kursi sambil mengelap air matanya.
"Tro, aku permisi dulu ya. Tolong sampein ke Ia. Aku minta maaf." Air matanya masih menetes. Ia pergi meninggalkan Sumitro yang sudah semakin bingung dengan apa yang terjadi antara sahabatnya Ia dengan wanita yang baru saja pergi meninggalkan Sumitro sendiri.
Sumitro langsung menaikkan kembali bangku plastik tadi ke atas gerobaknya. Di dorongnya gerobak cendolnya menuju istananya yang indah.

Sepanjang perjalanan, Sumitro selalu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara Ia dan Dina. Jika Dina tidak ada apa-apa dengan Ia, mengapa Dina jadi  emosional ?, mengapa dina menangis ?. Sumitro semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Timbul niatan untuk mempertemukan Ia dan Dina, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk terus mencari. Sebuah jalan agar sahabatnya bisa kembali tersenyum, seperti dahulu.

Ikan Cupang

Byurrrr, berenang aku mengitari baskom yang menampungku untuk sementara. Airnya jernih tak sekeruh gelas kaca yang sudah satu minggu ini menjadi rumahku. Aku suntuk dengan botol kaca itu, gerakku terbatas di situ-situ saja. Seandainya aku boleh demo sama pemilikku, aku ingin sekali dipindahkan ke akuarium 30X15 cm. Biar lega.

Oh iya maaf sebelumnya, namaku Kancup. Nama ini diberikan sama mas deri pemilik ku yang secara resmi membeliku dari kang sono sang juragan cupang. Aku sendiri bingung apa filosofi dari nama “Kancup”, namanya jelek banget. Kalo aku boleh milih, namaku seharusnya statham atau jet li, karena kemampuan tempurku gak kalah cantik sama mereka. Perlu kalian tahu, ditangan kang sono aku telah mengikuti Training Camp selama 3 bulan dan menjajal spesies cupang internasional, satu dari Amsterdam, dua dari London dan satu dari Nashville.

Tapi ditangan mas Deri, aku hanya dijadikan cupang cupu yang dikasih makan encu. Tidak ada training camp apalagi uji coba internasional. Sungguh bosan bekerjasama dengan mas Deri ini. Aku udah gak sabar mau nyupang lawan-lawanku. Kalau saja ada satu cupang yang nyebur ke baskom ini, sudah ku robek-robek siripnya.

Kebosanan pun harus berlanjut lagi. Mas deri ngejaring aku dan nyelupin aku kedalam botol kaca. “MAS, AKU INI CUPANG BUKAN JIN BOTOL”. Ingin rasanya ku menggerutu sama mas Deri kalau bisa.

Setelah itu, mas deri memegang rumah botolku dan memindahkannya disudut lemari. Dituangkannya rombongan encu kedalam botol. Asal kamu tahu mas, aku ini cupang generasi modern. Gak doyan lagi sama encu, aku butuh cacing beku yang kandungan gizinya lebih baik dan menunjang karirku sebagai cupang adu. Karena aku gengsi makan encu didepan mas Deri, kutunggu perginya mas deri baru ku makan encu got tak bergizi itu.

Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Mas deri mengeluarkan aku dari botol kaca sempit sialan itu lalu dipindahkan aku ke baskom. Aku melihat mas Deri memegang kayu yang ujungnya dililit dengan karet gelang. Perlengkapan yang biasanya digunakan oleh trainer cupang profesional. Sudah saatnya aku bersiap, aku harus menunjukkan performa terbaik ku. Training Camp ala Mas Deri, DIMULAI !!!

*ceritanya bersambung broh*