Tetesan embun pagi itu kurasakan adanya. Membasahi hatiku yang sudah lama kering karena menanti, mengharap, dan menaruh masa depanku pada manisnya masa lalu yang selalu kusayangi.
Jalanku terjal untuk sampai pada titik ini, dan aku tidak sungkan untuk mengakui salahku karena terlalu menyayangi masa lalu hingga aku pernah menyakiti. Bukan seperti itu maksudku. Aku tidak punya niatan apapun, hanya saja aku tidak akan bisa berbohong saat itu aku masih menyayangi masa laluku. Maafkan kepecundanganku yang tak pernah mengucap maaf.
Itu semua sudah berlalu dan harus kuceritakan satu hal tentang aku yang berdiri di titik ini. Titik dimana aku merasa aku sudah usai. Jalan terjalku sudah finish. Tapi bukan berarti aku boleh lengah. Mungkin setelah jalan terjal ini terlewati, akan ada hujan badai. Aku hanya harus bersiap, menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi.
Semesta rasanya tahu, aku yang mulai keram pipi ini masih terbuai dengan euforia finish dari jalan terjal itu. Dan ia pasti akan mengirimkan sinyalnya melalui alam jikalau aku harus terus berjuang, mengubah euforia ini menjadi sesuatu yang melebihi itu: Sebuah kebahagiaan, yang abadi.
Ia Belinda. Orang yang ternyata ada di ujung jalan terjal itu. Dia hadir, ketika aku tengah muak sampai putus asa akan mencari dan menanti.
Tatapan mata pertamaku dengannya malam itu, rasanya bagai menemukan dunia baru. Dunia dimana aku mulai mengerti siapa sebenarnya aku. Atau mungkin aku terjebak pada rumah kaca, yang kemanapun aku melangkah menjelajahi rumah itu, yang aku lihat hanyalah pantulan diriku sendiri.
Saat ini, aku memohon izin pada semesta. Agar semesta merestui aku yang keram pipi ini akan terus selamanya begini. Berhenti mencari, berharap dan menaruh. Tetapi mulai menata, merangkai, dan merancang dunia baruku bersama dia. Belinda.
diunggu tulisan berikutnya
BalasHapusSiap mamah
BalasHapus