Jumat, 28 Maret 2014

Tugas Teknologi Komunikasi Minggu Ke-3

Akses Internet dan kesenjangan
           
                Setelah minggu lalu membahas  tentang komunitas virtual dan perubahan paradigma pada media baru. Minggu ini saya akan membahas mengenai perspektif dalam penggunaan media baru baik dari segi akses, keterlibatan, dan interaksi. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Badan Pusat Statistik  mengungkapkan jumlah pengguana internet di Indonesia mencapai 71,9 juta orang hingga akhir 2013. Hal ini menunjukan peningkatan sebanyak 13% dari 2012 yang sebanyak 63 juta orang. Hasil survey diatas menunjukkan bahwa pengguna internet meningkat tiap tahunnya. Dibalik meningkatnya jumlah pengguna internet, tentu terdapat banyak hal yang menarik untuk dikaji. Baik dari pendekatan optimistik maupun pendekatan pesimistik.
            Hal yang paling mendasar pada peningkatan jumlah internet tersebut tentunya bersangkutan dengan akses masyarakat dalam menjangkau internet. Ada sebuah harapan yang muncul bahwa dengan meningkatnya akses internet khususnya di Indonesia tentu akan memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi, berinteraksi dengan orang lain, dan memudahkan proses transaksi jual beli. Namun hal-hal tersebut hanya bisa dirasakan bagi masyarakat yang memiliki kemudahan dalam mengakses internet. Lalu bagaimana dengan masyarakat di Indonesia bagian timur yang kesulitan dalam mengakses internet ? bagaimana dengan masyarakat yang secara pendapatan belum mampu berlangganan internet ?
            Menurut Van Dijk (1999) mengidentifikasi empat penghalang umum yang mempengaruhi penggunaan media baru khususnya internet :
1.      Beberapa orang, khususnya yang lanjut usia dan tidak memiliki keterampilan, terintimidasi oleh hadirnya media baru ini atau mempunyai pengalaman buruk pada saat pertama kali menggunakan media baru.
2.      Tidak ada atau sulitnya akses untuk menggunakan jaringan komputer.
3.       Kurangnya user-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru ini.
4.      Kurang pentingnya penggunaan media baru ini bagi individu tersebut.
Merujuk pada penyataan Van Dijk diatas, ada hal yang menarik untuk dicermati bahwa kehadiran internet bagi orang yang sudah lanjut usia justru mengintimidasi.  Saya memiliki asumsi orang yang sudah lanjut usia beranggapan bahwa internet dengan dukungan teknologi komunikasi yang canggih saat ini bukanlah eranya mereka untuk menggunakan internet. Bahkan mereka cenderung pasrah dalam menggunakan internet dan menyerahkan penggunaannya kepada yang lebih muda. Ibu saya contohnya, ketika jejaring sosial facebook sedang booming di masyarakat, ibu saya membutuhkan bantuan saya untuk membuat e-mail, lalu registrasi untuk membuat akun facebook, dan menanyakan fitur-fitur yang disediakan. Selanjutnya adalah soal akses yang sulit. Mungkin bagi penduduk Indonesia yang berdomisili di daerah perkotaan, soal akses bukanlah perkara yang besar. Karena jaringan telepon sudah tersedia dan rata-rata penduduk perkotaan mampu untuk membayar biaya langganan internet. Meskipun ada sebagian penduduk diperkotaan juga kesulitan untuk mengakses internet karena biaya untuk mengakses internet dirasa memberatkan sehingga mereka harus memprioritaskan untuk kebutuhan yang lebih penting. Di daerah pedesaan, akses terhadap internet masih sulit untuk dijangkau. Masalah infrastruktur menurut saya adalah hal utama yang menjadi kendala, karena di pulau Jawa saja belum semua daerah jaringan telepon masuk sampai ke pedesaan. Saya bisa mengatakan hal ini berdasarkan dari pengalaman saya saat bekerja untuk salah satu lembaga survey di Indonesia. Saat itu saya harus meminta nomor telepon untuk keperluan data koresponden yang saya wawancarai. Hampir semua dari mereka tidak memiliki nomor telepon, yang ada adalah nomor telepon seluler yang lebih mudah untuk digunakan dan tidak memerlukan instalasi yang rumit. Telepon seluler yang digunakan pun telepon seluler yang tidak memiliki fitur untuk mengakses internet. Yang saya cermati dari kasus ini adalah adanya kesenjangan ekonomi yang turut menjadi salah satu kendala dalam mengakses internet. Banyak yang meneliti bahwa minoritas kurang mempunyai komputer dan internet dibanding mayoritas, dan membuat mereka tidak dapat berpartisipasi pada aktifitas internet (Neu et al., 1999). Hal ini juga secara tidak langsung menunjukan bahwa minoritas juga menghabiskan waktu lebih sedikit untuk online dibanding mayoritas. Howard et al. (2002), juga menemukan bahwa orang yang mempunyai akses untuk teknologi komunikasi baru ini, mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi serta pendapatan yang lebih tinggi. Kendala – kendala tersebut membuat saya pesimis akan pemerataan penggunaan internet di Indonesia. Memanfaatkan momentum pemilu pada tahun ini, saya mengharapkan kepada anggota legislatif dan pada tingkatan eksekutif yang nantinya terpilih untuk membangun infrastruktur semaksimal mungkin agar pemerataan akses internet dapat terwujud. Selain itu, sebagai penggiat media radio yang menggunakan shoutcast untuk siaran streaming saya juga berharap dengan terciptanya infrastruktur yang memadai dapat menunjang aktifitas para penggiat radio komunitas streaming di seluruh Indonesia.
Selain itu terdapat juga ketertarikan penggunaan media baru bagi para penggunanya yang menjadi kendala bagi mereka. Sesuai dengan teori uses and gratifications pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. Teori ini menguatkan analisis Van Dijk poin ke-empat dimana kurang pentingnya penggunaan media baru bagi individu tersebut. Selain hal-hal tersebut, faktor lain yang mempengaruhi penggunaan media adalah etnis dan budaya. Memang terlihat agak rasis, namun, kenyataannya, media baru ini dikembangkan oleh kebanyakan kulit putih dan dengan tingkat edukasi yang baik, sehingga output hasil media baru tersebut juga tersisip budaya-budaya atau refleksi dari sang pengembang. Selain itu, orang-orang dengan disabilitas juga enggan menggunakan media karena keterbatasan mereka untuk mengakses informasi dan kesempatan untuk mengekspresikan diri kurang didukung di internet.

Sesungguhnya, penggunaan internet yang baik harus didukung dengan edukasi yang baik pula oleh penyelenggara Negara. Agar masyarakat dapat menggunakan internet secara positif. Mengenai masalah kesenjangan. Mungkin adalah sebuah masalah yang rumit yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Butuh regulasi dari pemerintah yang memungkinkan agar internet bisa masuk ke seluruh penjuru negeri. Selain itu, kecepatan akses internet juga perlu ditingkatkan agar Indonesia tidak kalah dari Negara lainnya.

Sabtu, 22 Maret 2014

Tugas Teknologi Komunikasi Minggu Ke-2

Media Baru dan Komunitas Virtual

            Sebuah hal yang selalu menarik untuk dikaji, khususnya dalam ilmu komunikasi. Amini saja kalimat awal saya tadi. Bahkan setelah diskusi dikelas teknologi komunikasi kemarin pun belum sepenuhnya menjawab rasa penasaran saya. Perkembangan teknologi sekarang ini bukan hanya berdampak pada perubahan pola komunikasi saja tapi berakibat langsung pada perubahan kebudayaan dan juga ekonomi. Gagasan ini sering disebut sebagai determinasi teknologi. Dimulai dari penemuan mesin cetak yang menjadi awal bagi perkembangan media hingga penemuan dan pengembangan internet pada masa sekarang ini hingga menimbulkan pro dan kontra terkait dengan semakin pesatnya teknologi komunikasi.
            Pada kajian perkembangan teknologi komunikasi sendiri, terdapat tiga tahapan. Tahapan yang pertama adalah tahapan mengenai Komunitas dan media. Park (1922)  tertarik dalam  peranan pada  media komunitas yang berhubungan dengan  pembentukan identitas   diantara  group imigran.  Dalam  studi selanjutnya  ia   mengamati  bahwa bacaan surat kabar  adalah bacaan yang identik dengan para  penduduk  kota  dibandingkan dengan penduduk di pedesaan  (Park, 1929).  Pada tahun 1949 Merton menindak lanjuti hasil penelitian dengan melakukan identifikasi pada masyarakat lokal (pedesan) dan kosmopolitan mengenai perilaku kedua kelompok ini dalam mengkonsumsi berita. Masyarakat lokal lebih senang menerima informasi yang berkaitan dengan perkembangan daerahnya. Hal ini saya akui karena pengalaman saya menjadi surveyor disebuah desa di Kebumen mengindikasikan bahwa masyarakat lokal lebih tertarik untuk mencari informasi tentang perkembangan daerahnya, dan apa yang terjadi disekitar mereka. Sebaliknya, masyarakat kosmpolitan lebih terbuka dalam mengkonsumsi informasi dan lebih suka mencari informasi yang bersifat global.
            Tahapan kedua yaitu tahap perkembangan media komunitas elektronik. Dimana pada tahapan ini Media dalam konteks  membuat  ‘media komunitas’ dan  istilah ini mengacu pada sebuah tingkat berbeda pada bentuk-bentuk mediasi pada  komunikasi. Media seperti surat kabar  dan  majalah, dan  selanjutnya menggunakan jaringan elektronik pada akhirnya menyatukan karakteristik  baik pada  media  cetak tradisional dan elektronik. Selanjutnya adalah timbulnya pembentukan televisi komunitas  yang merupakan inisiatif skala kecil yang dibuat oleh orang – orang lokal  sebagai pembeda dari siaran profesional (Lewis, 1976: 61). Para  anggota  pada komunitas, sering beraliansi  dengan para staf stasiun profesional dijadikan sebagai penanggung jawab untuk ide  dan produksi program yang dihasilkan. Para anggota komunitas secara umum dilibatkan  dalam semua hal pada aktifitas stasiun dan melatih mengkontrol  hari demihari  dan  kebijakan dalam  waktu lama.  Dalam area residensial modal sosial,  itu terlihat  seolah-olah media komunitas  dapat  melakukan sedikit  untuk meembuat sesuatu lebih baik’ (lihat juga pada Jankowski et al., 2001).
            Tahapan ketiga adalah era internet. Era internet adalah hal yang seksi untuk dikaji. Bahkan saat ini telah banyak penelitiaan yang mengambil fokus utama soal internet dan komunitas virtual yang hadir akibat perkembangan internet. Perkembangan komunitas virtual pada akhirnya menimbulkan istilah baru dalam dunia komunikasi yang disebut komunikasi virtual. Sebelum melangkah lebih jauh dalam mebahas soal komunitas virtual, kita bahas terlebih dahulu mengenai internet. Internet berbeda dengan media-media yang lebih tradisional. Pada internet, sesorang dapat berkomunikasi dengan khyalayak luas seperti halnya sebuah perusahaan besar penyedia jasa saluran televisi yang menyiarkan informasi kepada khalayak ramai. Namun yang jadi pembeda adalah, jika pada media tradisional umpan baliknya bersifat tidak langsung atau tertunda, tetapi dengan internet sangat memungkinkan untuk mendapatkan umpan balik secara langsung. Sederhananya adalah tulisan pada blog saya ini, sangat mungkin bagi para pengikut blog saya untuk memberikan komentar secara langsung mengenai tulisan – tulisan saya melalui kolom komentar. Pola komunikasi seperti ini lebih mirip dengan komunikasi antar pribadi dibanding dengan komunikasi massa.
            Sesuai penjelasan diatas bahwa individu sekarang dapat melakukan distribusi informasi layaknya sebuah perusahaan media. Maka ada sebuah indikasi bahwa arus informasi dan isu publik dapat dikendalikan oleh publik. Dengan internet, orang dapat memperoleh akses informasi baik lokal maupun global secara cepat kapanpun dimanapun. Kehadiran internet juga mendukung kebebasan berekspresi bagi masyarakat. Saya ambil contoh kasus Prita yang mengirim e-mail keluhan soal pelayanan rumah sakit tempat ia berobat kepada costumer care rumah sakit tersebut dan juga mengirimkan e-mail tersebut kepada beberapa temannya dan akhirnya tersebar ke beberapa mailing list (milis). Hingga akhirnya pihak rumah sakit melayangkan bantahan dan melayangkan gugatan ke kejaksaan tingi negeri karena dianggap melakukan pencemaran nama baik. Hal ini menimbulkan kehebohan di masyarakat dan akhirnya menjadi isu nasional. Yang saya cermati dari kasus Prita Mulyasari yang terjadi pada tahun 2008 adalah bagaimana informasi tersebut tersebar secara cepat melalui mailing list yang merupakan sebuah komunitas virtual dan terjadi sebuah komunikasi virtual dalam proses penyebarannya sehingga menimbulkan reaksi di masyarakat.
            Lalu, apa itu komunikasi virtual ? Komunikasi virtual sendiri merupakan suatu bentuk komunikasi yang dilakukan antar individu ataupun khalayak menggunakan media yang disebut dengan teknologi (Rhengold). Dengan terciptanya teknologi ini, pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer simulated environment). Lingkungan yang tercipta dalam bentuk komunikasi virtual ini adalah bentuk dari lingkungan nyata yang ditiru atau murni hanya merupakan suatu lingkungan yang ada dalam imajinasi. Lingkungan realitas maya modern pada umumnya menyajikan pengalaman visual yang ditampilkan pada layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik. Namun pada beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil penginderaan. Misalnya; pengguna dapat mendengar suara melalui speaker atau headphone. Bukunya yang berjudul The Virtual Community Homesteading  on the Electronic Frontier (2000)  memberikan sebuah  pandangn personal    tentang  seperti apa itu kehidupan dalam dunia cyberspace.  Dengan  mengambil  pengalaman-pengalaman  personal dalam komunitas virtual pertama, WELL (Whole Earth ‘ELectronic Link),  Rheingold  menggabungkan  pada tingkat  partisipasi aktifitas  dalam   lingkungan  virtual.
Orang dalam komunitas virtual menggunakan kata  untuk   bertukar  pandangan dan pendapat, terlibat dalam wacana intelektual,  melakukan perdagangan,  pertukaran  pengetahuan, berbagai dukungan emosional, membuat  perencanaan,  pencucian otak, gosip,  jatuh cinta, bertemu teman  dan  kehilanglan mereka, bermain  game,  membuat  sebuah  seni dan  pembicaraan lainnya.  Orang dalam komunitas virtual  melakukan segala sesuatu seperti dalam kehidupan nyata, tetapi kita meninggalkan badan kita  dibelakang. Kamu tidak dapat  mencium seseorang dan tidak ada  yang dapat memukul hidungmu, tetapi  banyak hal dapat terjadi  pada semua batasan-batasan yang ada (1993:3).
            Pernyataan Rhengold diatas sesungguhnya telah menjelaskan apa dan bagaimana komunitas virtual itu. Komunitas virtual merupakan gabungan individu – individu yang saling berinteraksi tanpa harus ada kesamaan daerah dan tanpa terikat waktu. Tetapi mereka merasa memiliki ikatan sosial, budaya dan meskipun mereka tidak pernah bersentuhan secara langsung (tatap muka) tetapi mereka merasa bahwa komunitas itu nyata. Komunitas virtual tentu memiliki perbedaan dengan komunitas organik. Komunitas organik merupakan kumpulan dari beberapa populasi yang terikat oleh tempat dan waktu yang saling berinteraksi secara langsung dan memengaruhi satu sama lain. Secara lebih detil lagi, ada beberapa perbedaan karakteristik pada komunitas organik dan komunitas virtual:
1.      Dari segi komposisi anggota, komunitas organik lebih terbatas pada kesamaan usia, sedangkan pada komunitas virtual batasan usia bisa dihilangkan.
2.      Dalam melakukan agenda aktifitas, komunitas organik dapat melakukan banyak aktifitas. Sedangkan pada komunitas virtual  mereka hanya dapat melakukan aktifitas khusus. Misalkan pada komunitas para penggemar film mereka mungkin hanya akan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan film seperti berbagi referensi film menarik, berdebat mengenai film terbaru dsb.
3.      Dari segi bahasa dan interaksi, komunitas organik berinteraksi dengan menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Sementara komunitas virtual berinteraksi dengan lebih banyak menggunakan bahasa verbal.
4.      Dalam hal identitas dan kebudayaan, komunitas organik bersifat total tunggal dan homogen karena memiliki ikatan daerah. Sedangkan komunitas virtual bersifat partial plural dan heterogen.

Setelah membahas soal komunikasi virtual dan komunitas virtual yang timbul karena perkembangan teknologi komunikasi maka kurang afdol rasanya jika tidak mebahas dampak baik dan buruknya akibat dari teknologi komunikasi yang selalu jadi perdebatan;
Dampak positif;
1.      Alat referensi yang canggih. Dengan teknologi komunikasi khususnya internet memungkinkan penggunanya untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya tanpa terhambat oleh jarak dan waktu.
2.      Medium baru untuk perdagangan. Orang bisa melakukan proses transaksi jual beli dimanapun kapanpun.
3.      Teknologi Komunikasi memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang diseluruh penjuru dunia.
4.       Dapat menemukan kembali nilai-nilai yang hilang pada komunikasi tradisional melalui komunikasi dengan menggunakan Internet.
Dampak Negatif;
1.      Menyulitkan kontrol terhadap informasi yang tersebar luas melalui teknologi komunikasi.
2.      Mengurangi Interaksi tatap muka karena dengan teknologi yang ada membuat masyarakat lebih mudah berinteraksi dengan media baru.
3.      Maraknya penipuan yang terjadi pada transaksi jual beli di internet karena terkadang penjual dan pembeli belum diketahui secara pasti identitasnya.
4.      Privasi menjadi hal yang mudah ditembus oleh teknologi komunikasi.
           

              sumber dan referensi;
Stanley J Baran. Pengantar Komunikasi Masa Jilid 1 Edisi 5 Melek Media dan Budaya
Menciptakan Kumunitas dengan Media:
Investivigasi/Penyelidikan Sejarah, Teori dan Ilmu Pengetahuan

NICHOLAS W.  JANKOWSKI 

Rabu, 12 Maret 2014

Tugas 1 Tekhnologi Komunikasi



A.    Definisi Teknologi Komunikasi
Sebelum memilah definisi teknologi komunikasi, kita pahami terlebih dahulu pengertian dari kata – perkatanya yang terdiri dari ‘teknologi’ dan ‘komunikasi’.
Teknologi merupakan sebuah seperangkat untuk membantu aktivitas kita dan dapat mengurangi ketidakpastian yang disebabkan oleh hubungan sebab akibat yang melingkupi dalam mencapai suatu tujuan ( Roger, 1983).
Komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan di antara dua orang atau kelompok kecil, dengan efek dan feed back langsung.
Jadi menurut dua pengertian diatas, dapat kita simpulkan bahwa pengertian Teknologi Komunikasi adalah sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai – nilai sosial dimana individu – individu mengumpulkan, memproses, dan tukar – menukar informasi dengan individu – individu lain. (Roger, 1986).
Perlengkapan hardware, misalnya komputer, handphone, dan perangkat keras lainnya yang menggantikan peralatan komunikasi yang ada sebelumnya.
pada intinya,,teknologi komunikasi merupakan suatu sarana yang dikembangkan dalam proses menuju komunikasi yang efektif (berhasil) seiring dengan semakin berkembangnya peradaban kehidupan manusia.
B.     Unsur-unsur Teknologi Komunikasi
1.      Informasi dapat berupa tulisan,suara,music,gambar,dan data yang memiliki spectrum frekuensi dan bentuk-bentuk yang berbeda
2.      Alat yang digunakan untuk meneruskan informasi, dengan media transmisi dan system modulasi
3.      Dengan cara yang sesuai,bentuk akhir (informasi yang diterima) harus serupa mungkin dengan bentuk awal (informasi yang dikirimkan) dan dalam batas-batas distorsi yang ditolerir
4.      Dalam jumlah maupun kecepatan yang semakin meningkat melalui jarak yang semakin jauh dengan biaya yang seekonomis mungkin.

C.    Era evolusi komunikasi pada manusia (Rodgers 1986)
Everett M Rogers (1986:26) mencatat ada empat fase perkembangan komunikasi manusia. Fase-fase tersebut adalah The Writing Era, The Printing Era, Telecommunication Era, dan  Interactive Communication Era.  Sebelum fase-fase tersebut Rogers mengungkapkan, pada masa-masa awal manusia melakukan kontak dengan sesuatu yang sangat sederhana. Gambar-gambar lukisan di goa-goa (cave painting) menunjukkan bagaimana manusia prasejarah mengekspresikan tentang apa yang terjadi dan dialaminya. Pada mulanya lukisan-lukisan tersebut tidak beraturan, namun lama kelamaan bentuk dan susunan gambarnya mulai menunjukkan kesinambungan. Hal ini sangat jelas bisa dilihat dari pictograph peninggalan kebudayaan Mesir yang ditemukan di makam-makam (piramida).

Pada The Writing Era, terlihat jelas bahwa era komunikasi dimulai dengan tulisan yang mulai bisa dipahami yang dipelopori oleh bangsa Sumeria.  Hal ini dikembangkan lebih jauh saat ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg. Walau demikian pada masa-masa awal penggunaan mesin cetak itu hanyalah untuk mengkopi kitab yang sebelumnya telah ditulis tangan oleh kalangan gereja dan tersebar sangat terbatas hingga masa renaisance.
The Printing Era, Rogers memaparkan bahwa fase ini komunikasi manusia lebih maju dengan memanfaatkan teknologi cetak.  Pada mulanya kemunculan bahan cetak ini berawal dari Cina dengan ditemukannya bahan baku pembuatan kertas. Selanjutnya teknologi pencetakan mulai berkembang dari Cina kemudian Korea hingga akhirnya ke Jerman dengan ditemukannya mesin cetak.  Kemajuan yang berkesinambungan dari canggihnya teknologi percetakan ini ditunjukkan pada 3 September 1883 saat dimana Bejamin Day untuk pertama kalinya menerbitkan surat kabar New York Sun atau dikenal juga dengan sebutan  “Penny Press” karena harga satu ekslempar surat kabar tersebut seharga satu penny atau satu sen.
Telecommunication Era, berimplikasi pada pengertian komunikasi dengan jarak yang berjauhan (communication at a long distance). Menurut Rogers (1986: 29-30) pada era  yang mulai berkembang pesat pada medium tahun 1800-an ini memasuki era teknologi elektronika. Rogers memulai era ini dengan mengambil moment pada saat  Samuel Morse pada tanggal 24 Mei 1844 menemukan suatu cara menyampaikan pesan melalui  kabel elektronika, belakangan dikenal dengan istilah telegraph,  dari Baltimore ke Washington DC dengan pesan yang sangat terkenal “What hath God Wrought?”.  Kehadiran telegraph memicu para ahli untuk mengembangkan teknologi yang lebih baru, antara lain radio dan televisi.
Dalam buku “Introduction to Radio and Television”  Onong Uchjana Effendy, 2003: 137-170) dijelaskan perkembangan radio dimulai oleh penemuan  rumus-rumus  yang diduga mewujudkan gelombang elektromagnetis, yaitu gelombang yang digunakan oleh siaran radio maupun televisi. Selanjutnya di Amerika Serikat, Dr Lee De Forest mengembangkan penemuan tabung lampu vacuum (vacuum tube) yang memungkinkan  suara dapat didengarkan dalam studio eksperimen miliknya. Kemunculan televisi di Amerika Serikat pada awal 1939 ketika berlangsung World Fair di New York  dan pada tahun 1946 saat Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan rapat pertamanya di gedung Perguruan Tinggi Hunter di kota yang sama mulailah perlombaan teknologi audio visual itu menjalar ke negara-negara lain,  terutama Inggris dan Jerman yang pertama kali menemukan televisi berwarna. Perlu dicatat bahwa Inggris sudah terlebih dahulu melakkan eksperimen terhadap televisi yaitu pada tahun1924 yang didemonstrasikan oleh John Logie Baird, namun kepopulerannya terkalahkan dengan Amerika Serikat.
Bahkan perkembangan selanjutnya penyampaian pesan yang tidak lagi memakai kabel melainkan dengan pancaran frekuensi dan bahkan kehadiran satelit. Sehingga proses komunikasi tidak hanya melibatkan antarpersonal, melainkan sudah melibatkan individu yang lebih luas.
Sementara Interactive Communication Era,  merupakan era yang paling kontemporer dimana telekomunikasi terjadi antara dua media yang berbeda dan difasilitasi dengan keberadaan komputer. Rogers mencatat era ini berawal dari ditemukannya ENIAC, sebutan untuk perangkat kerja komputer sederhana yang memiliki lebih dari 18.000 tabung lampu vacuum, di tahun 1946 oleh sekelompok ilmuwan di Universitas Pensylvania.  Sepertiga abad kemudian penemuan sederhana ini menghasilkan perangkat yang lebih kecil, lebih canggih dan lebih fleksibel dalam penggunaannya. “…thirty years of futher research and development were needed before miniaturized, lowpriced microcomputers became available, a type of computer that many household, businesses, and school could afford” (Rogers, 1986: 30-31)
Berikut merupakan table Era evolusi komunikasi pada manusia (Rodgers 1986)
·         35.000 SM      : Periode Cro-Magnon Bahasa mulai eksis
·         22.000 SM      : Gambar di dinding manusia Purba
1.      Writing era
·         4.000 SM        : Orang Sumeria menulis pada tanah liat
·         1041 M            : Di China, Pi Sheng menemukan alat cetak tulisan pada buku yang dapat bergerak
·         1241 M            : Di Korea ditemukan jenis logam sebagai pengganti tanah liat
2.      Printing Era
·         1456 M            : Injil Gutenberg dicetak dengan jenis logam yang dapat bergerak dan sebuah hand press
·         1833 M            : Sirkulasi media cetak pertama yang terkenal dengan “penny pres” Vulgar, sensasional dan murah harganya
·         1839 M            : Metode Praktik Fotografi dikembangkan oleh Daguerre untuk mendukung surat kabar



3.      Telecommunication Era
·         1844    Samuel Morse mengirim pesan pertama dengan telegram
·         1876    Alexander Graham Bell mengirim pesan pertama lewat telepon
·         1894    Gambar begerak ditemukan dan film dipertontonkan kepada publik
·         1895    Gugielmo Marconi mengirim pesan melalui radio
·         1912    Lee de Forest menemukan tabung hampa udara
·         1920    KDKA, Radio pertama yang mengudara secara teratur di Pittsburgh
·         1933    Alat Televisi diperagakan oleh RCA
·         1941    Televisi Komersil pertama

4.      Interactive Comunication Era
·         1946    Mainframe komputer pertama yang bernama ENIAC oleh Universitas Pennysilvania dengan 18.000 vacuum tube
·         1947    Ditemukan transistor di Bell lab oleh William Shockey , John Bardeen, dan Walter Brattain.
·         1956    Videotape ditemukan pleh perusahaan AMPEX. Red Wood City, California
·         1957    Rusia meluncurkan satelit ruang angkasa, Sputnik
·         1969    Nasa menerbangkan pesawat ruang angkasa dengan mikrokomputer 3.000 lebih kecil dari ENIAC
·         1971    Ditemukan mikroprosesor, CPU, dengan semikonduktor berupa chip o;eh Ted Hoff pada Intel Corp, di perusahaan elektronik Silicon Valley
·         1975    Mikrokomputer pertama Altair8800
·         1975    HBO(Home Box Office) mulai menyiarkan TV kabel
·         1976    Sistem Teletext pertama digunakan oleh dua jaringan TV di Inggris BBC dan ITV
·         1977    Qube meluncurkan sistem interaksi TV kabel di Colombus, Ohio
·         1979    Sistem Videotext diluncurkan oleh British Post Office

5.      Karakteristik sistem komunikasi manusia sebagai akibat teknologi komunikasi baru adalah
Interactiviy, kemampuan untuk “talk back” kepada penggunanya artinya komponen teknologi elektronik yang ada memungkinkan adanya komunikasi dengan medianya secara automatic atau mechanical reaction, dan atau memungkinkan terjadi komunikasi interpersona melalui media atau “machine assisted interpersonal communication”. Makna interaktif yang pertama lebih sebagai reaksi mekanik yang terprogram di media, dan makna interaktif yang kedua mengandung artian mutual responsif yang lebih bertendensi pada human response yang didalamnya terdapat berbagai kemampuan seperti kecakapan untuk mendengar, trus – menerus, dan kecakapn intelegensi dalammerespon pesan yang disampaikan.
Interactivity yang dimaksud adalah kualitas dari sistem komunikasi seperti perilaku komunikasi yang diharapkan ; keakuratan, lebih efektif, dan lebih menyenangkan bagi para komunikan dalam proses komunikasi. Meskipun dengan adanya teknologi komunikasi baru yang bersifat interaktif, namun faktor individu yang aktif menentukan mau interaktif atau tidak.
De-massified, adalah kemampuan untuk menyampaikan pesan “khusus” antar individu dalam audience yang sangat banyak. Mirip bentuk komunikasi antarpersona pada media baru tersebut, meskipun mereka tidak bertemu secara face to face. De – massifoed juga dapat diartikan kontrol sistem komunikasi massa berubah dari para produser  media lepada para media consumer.
Asynchronous, artinya kemampuan untuk mengirim dan menerima pesan pada waktu yang tepat pada individu. Sebagai contoh individu dapat membuka e-mail dimana dan kapan dia suka “whenever log-on”
 

DAFTAR PUSTAKA
Noegroho, Agoeng. “Teknologi Komunikasi”.Graha Ilmu.Yogyakarta.2010