Jumat, 28 Maret 2014

Tugas Teknologi Komunikasi Minggu Ke-3

Akses Internet dan kesenjangan
           
                Setelah minggu lalu membahas  tentang komunitas virtual dan perubahan paradigma pada media baru. Minggu ini saya akan membahas mengenai perspektif dalam penggunaan media baru baik dari segi akses, keterlibatan, dan interaksi. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Badan Pusat Statistik  mengungkapkan jumlah pengguana internet di Indonesia mencapai 71,9 juta orang hingga akhir 2013. Hal ini menunjukan peningkatan sebanyak 13% dari 2012 yang sebanyak 63 juta orang. Hasil survey diatas menunjukkan bahwa pengguna internet meningkat tiap tahunnya. Dibalik meningkatnya jumlah pengguna internet, tentu terdapat banyak hal yang menarik untuk dikaji. Baik dari pendekatan optimistik maupun pendekatan pesimistik.
            Hal yang paling mendasar pada peningkatan jumlah internet tersebut tentunya bersangkutan dengan akses masyarakat dalam menjangkau internet. Ada sebuah harapan yang muncul bahwa dengan meningkatnya akses internet khususnya di Indonesia tentu akan memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi, berinteraksi dengan orang lain, dan memudahkan proses transaksi jual beli. Namun hal-hal tersebut hanya bisa dirasakan bagi masyarakat yang memiliki kemudahan dalam mengakses internet. Lalu bagaimana dengan masyarakat di Indonesia bagian timur yang kesulitan dalam mengakses internet ? bagaimana dengan masyarakat yang secara pendapatan belum mampu berlangganan internet ?
            Menurut Van Dijk (1999) mengidentifikasi empat penghalang umum yang mempengaruhi penggunaan media baru khususnya internet :
1.      Beberapa orang, khususnya yang lanjut usia dan tidak memiliki keterampilan, terintimidasi oleh hadirnya media baru ini atau mempunyai pengalaman buruk pada saat pertama kali menggunakan media baru.
2.      Tidak ada atau sulitnya akses untuk menggunakan jaringan komputer.
3.       Kurangnya user-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru ini.
4.      Kurang pentingnya penggunaan media baru ini bagi individu tersebut.
Merujuk pada penyataan Van Dijk diatas, ada hal yang menarik untuk dicermati bahwa kehadiran internet bagi orang yang sudah lanjut usia justru mengintimidasi.  Saya memiliki asumsi orang yang sudah lanjut usia beranggapan bahwa internet dengan dukungan teknologi komunikasi yang canggih saat ini bukanlah eranya mereka untuk menggunakan internet. Bahkan mereka cenderung pasrah dalam menggunakan internet dan menyerahkan penggunaannya kepada yang lebih muda. Ibu saya contohnya, ketika jejaring sosial facebook sedang booming di masyarakat, ibu saya membutuhkan bantuan saya untuk membuat e-mail, lalu registrasi untuk membuat akun facebook, dan menanyakan fitur-fitur yang disediakan. Selanjutnya adalah soal akses yang sulit. Mungkin bagi penduduk Indonesia yang berdomisili di daerah perkotaan, soal akses bukanlah perkara yang besar. Karena jaringan telepon sudah tersedia dan rata-rata penduduk perkotaan mampu untuk membayar biaya langganan internet. Meskipun ada sebagian penduduk diperkotaan juga kesulitan untuk mengakses internet karena biaya untuk mengakses internet dirasa memberatkan sehingga mereka harus memprioritaskan untuk kebutuhan yang lebih penting. Di daerah pedesaan, akses terhadap internet masih sulit untuk dijangkau. Masalah infrastruktur menurut saya adalah hal utama yang menjadi kendala, karena di pulau Jawa saja belum semua daerah jaringan telepon masuk sampai ke pedesaan. Saya bisa mengatakan hal ini berdasarkan dari pengalaman saya saat bekerja untuk salah satu lembaga survey di Indonesia. Saat itu saya harus meminta nomor telepon untuk keperluan data koresponden yang saya wawancarai. Hampir semua dari mereka tidak memiliki nomor telepon, yang ada adalah nomor telepon seluler yang lebih mudah untuk digunakan dan tidak memerlukan instalasi yang rumit. Telepon seluler yang digunakan pun telepon seluler yang tidak memiliki fitur untuk mengakses internet. Yang saya cermati dari kasus ini adalah adanya kesenjangan ekonomi yang turut menjadi salah satu kendala dalam mengakses internet. Banyak yang meneliti bahwa minoritas kurang mempunyai komputer dan internet dibanding mayoritas, dan membuat mereka tidak dapat berpartisipasi pada aktifitas internet (Neu et al., 1999). Hal ini juga secara tidak langsung menunjukan bahwa minoritas juga menghabiskan waktu lebih sedikit untuk online dibanding mayoritas. Howard et al. (2002), juga menemukan bahwa orang yang mempunyai akses untuk teknologi komunikasi baru ini, mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi serta pendapatan yang lebih tinggi. Kendala – kendala tersebut membuat saya pesimis akan pemerataan penggunaan internet di Indonesia. Memanfaatkan momentum pemilu pada tahun ini, saya mengharapkan kepada anggota legislatif dan pada tingkatan eksekutif yang nantinya terpilih untuk membangun infrastruktur semaksimal mungkin agar pemerataan akses internet dapat terwujud. Selain itu, sebagai penggiat media radio yang menggunakan shoutcast untuk siaran streaming saya juga berharap dengan terciptanya infrastruktur yang memadai dapat menunjang aktifitas para penggiat radio komunitas streaming di seluruh Indonesia.
Selain itu terdapat juga ketertarikan penggunaan media baru bagi para penggunanya yang menjadi kendala bagi mereka. Sesuai dengan teori uses and gratifications pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. Teori ini menguatkan analisis Van Dijk poin ke-empat dimana kurang pentingnya penggunaan media baru bagi individu tersebut. Selain hal-hal tersebut, faktor lain yang mempengaruhi penggunaan media adalah etnis dan budaya. Memang terlihat agak rasis, namun, kenyataannya, media baru ini dikembangkan oleh kebanyakan kulit putih dan dengan tingkat edukasi yang baik, sehingga output hasil media baru tersebut juga tersisip budaya-budaya atau refleksi dari sang pengembang. Selain itu, orang-orang dengan disabilitas juga enggan menggunakan media karena keterbatasan mereka untuk mengakses informasi dan kesempatan untuk mengekspresikan diri kurang didukung di internet.

Sesungguhnya, penggunaan internet yang baik harus didukung dengan edukasi yang baik pula oleh penyelenggara Negara. Agar masyarakat dapat menggunakan internet secara positif. Mengenai masalah kesenjangan. Mungkin adalah sebuah masalah yang rumit yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Butuh regulasi dari pemerintah yang memungkinkan agar internet bisa masuk ke seluruh penjuru negeri. Selain itu, kecepatan akses internet juga perlu ditingkatkan agar Indonesia tidak kalah dari Negara lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar