Media
Baru dan Komunitas Virtual
Sebuah hal yang selalu menarik untuk dikaji, khususnya
dalam ilmu komunikasi. Amini saja kalimat awal saya tadi. Bahkan setelah
diskusi dikelas teknologi komunikasi kemarin pun belum sepenuhnya menjawab rasa
penasaran saya. Perkembangan teknologi sekarang ini bukan hanya berdampak pada
perubahan pola komunikasi saja tapi berakibat langsung pada perubahan
kebudayaan dan juga ekonomi. Gagasan ini sering disebut sebagai determinasi
teknologi. Dimulai dari penemuan mesin cetak yang menjadi awal bagi
perkembangan media hingga penemuan dan pengembangan internet pada masa sekarang
ini hingga menimbulkan pro dan kontra terkait dengan semakin pesatnya teknologi
komunikasi.
Pada kajian perkembangan teknologi komunikasi sendiri, terdapat
tiga tahapan. Tahapan yang pertama adalah tahapan mengenai Komunitas dan media.
Park (1922) tertarik dalam peranan pada
media komunitas yang berhubungan dengan
pembentukan identitas diantara group imigran. Dalam
studi selanjutnya ia mengamati
bahwa bacaan surat kabar adalah bacaan
yang identik dengan para penduduk kota dibandingkan dengan penduduk di pedesaan (Park, 1929). Pada tahun 1949 Merton menindak lanjuti hasil
penelitian dengan melakukan identifikasi pada masyarakat lokal (pedesan) dan
kosmopolitan mengenai perilaku kedua kelompok ini dalam mengkonsumsi berita.
Masyarakat lokal lebih senang menerima informasi yang berkaitan dengan
perkembangan daerahnya. Hal ini saya akui karena pengalaman saya menjadi
surveyor disebuah desa di Kebumen mengindikasikan bahwa masyarakat lokal lebih
tertarik untuk mencari informasi tentang perkembangan daerahnya, dan apa yang
terjadi disekitar mereka. Sebaliknya, masyarakat kosmpolitan lebih terbuka
dalam mengkonsumsi informasi dan lebih suka mencari informasi yang bersifat
global.
Tahapan kedua yaitu tahap perkembangan media komunitas
elektronik. Dimana pada tahapan ini Media dalam konteks membuat
‘media komunitas’ dan istilah ini
mengacu pada sebuah tingkat berbeda pada bentuk-bentuk mediasi pada komunikasi. Media seperti surat kabar dan majalah,
dan selanjutnya menggunakan jaringan
elektronik pada akhirnya menyatukan karakteristik baik pada
media cetak tradisional dan elektronik.
Selanjutnya adalah timbulnya pembentukan televisi komunitas yang merupakan inisiatif skala kecil yang
dibuat oleh orang – orang lokal sebagai
pembeda dari siaran profesional (Lewis, 1976: 61). Para anggota
pada komunitas, sering beraliansi
dengan para staf stasiun profesional dijadikan sebagai penanggung jawab
untuk ide dan produksi program yang
dihasilkan. Para anggota komunitas secara umum dilibatkan dalam semua hal pada aktifitas stasiun dan
melatih mengkontrol hari demihari dan
kebijakan dalam waktu lama. Dalam area residensial modal sosial, itu terlihat
seolah-olah media komunitas
dapat melakukan sedikit untuk meembuat sesuatu lebih baik’ (lihat
juga pada Jankowski et al., 2001).
Tahapan ketiga adalah era internet. Era internet adalah
hal yang seksi untuk dikaji. Bahkan saat ini telah banyak penelitiaan yang
mengambil fokus utama soal internet dan komunitas virtual yang hadir akibat
perkembangan internet. Perkembangan komunitas virtual pada akhirnya menimbulkan
istilah baru dalam dunia komunikasi yang disebut komunikasi virtual. Sebelum
melangkah lebih jauh dalam mebahas soal komunitas virtual, kita bahas terlebih
dahulu mengenai internet. Internet berbeda dengan media-media yang lebih
tradisional. Pada internet, sesorang dapat berkomunikasi dengan khyalayak luas
seperti halnya sebuah perusahaan besar penyedia jasa saluran televisi yang
menyiarkan informasi kepada khalayak ramai. Namun yang jadi pembeda adalah,
jika pada media tradisional umpan baliknya bersifat tidak langsung atau
tertunda, tetapi dengan internet sangat memungkinkan untuk mendapatkan umpan
balik secara langsung. Sederhananya adalah tulisan pada blog saya ini, sangat
mungkin bagi para pengikut blog saya untuk memberikan komentar secara langsung mengenai
tulisan – tulisan saya melalui kolom komentar. Pola komunikasi seperti ini
lebih mirip dengan komunikasi antar pribadi dibanding dengan komunikasi massa.
Sesuai penjelasan diatas bahwa individu sekarang dapat
melakukan distribusi informasi layaknya sebuah perusahaan media. Maka ada
sebuah indikasi bahwa arus informasi dan isu publik dapat dikendalikan oleh
publik. Dengan internet, orang dapat memperoleh akses informasi baik lokal
maupun global secara cepat kapanpun dimanapun. Kehadiran internet juga
mendukung kebebasan berekspresi bagi masyarakat. Saya ambil contoh kasus Prita
yang mengirim e-mail keluhan soal pelayanan rumah sakit tempat ia berobat
kepada costumer care rumah sakit tersebut dan juga mengirimkan e-mail tersebut
kepada beberapa temannya dan akhirnya tersebar ke beberapa mailing list (milis). Hingga akhirnya pihak rumah sakit melayangkan
bantahan dan melayangkan gugatan ke kejaksaan tingi negeri karena dianggap
melakukan pencemaran nama baik. Hal ini menimbulkan kehebohan di masyarakat dan
akhirnya menjadi isu nasional. Yang saya cermati dari kasus Prita Mulyasari
yang terjadi pada tahun 2008 adalah bagaimana informasi tersebut tersebar
secara cepat melalui mailing list yang
merupakan sebuah komunitas virtual dan terjadi sebuah komunikasi virtual dalam
proses penyebarannya sehingga menimbulkan reaksi di masyarakat.
Lalu, apa itu komunikasi virtual ? Komunikasi virtual
sendiri merupakan suatu bentuk komunikasi yang dilakukan antar individu ataupun
khalayak menggunakan media yang disebut dengan teknologi (Rhengold). Dengan
terciptanya teknologi ini, pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan
yang disimulasikan oleh komputer (computer simulated environment). Lingkungan
yang tercipta dalam bentuk komunikasi virtual ini adalah bentuk dari lingkungan
nyata yang ditiru atau murni hanya merupakan suatu lingkungan yang ada dalam
imajinasi. Lingkungan realitas maya modern pada umumnya menyajikan pengalaman
visual yang ditampilkan pada layar komputer atau melalui sebuah penampil
stereokopik. Namun pada beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi
hasil penginderaan. Misalnya; pengguna dapat mendengar suara melalui speaker
atau headphone. Bukunya yang berjudul The Virtual Community Homesteading on the Electronic Frontier (2000) memberikan sebuah pandangn personal tentang
seperti apa itu kehidupan dalam dunia cyberspace. Dengan
mengambil
pengalaman-pengalaman personal
dalam komunitas virtual pertama, WELL (Whole Earth ‘ELectronic Link), Rheingold
menggabungkan pada tingkat partisipasi aktifitas dalam
lingkungan virtual.
Orang
dalam komunitas virtual menggunakan kata
untuk bertukar pandangan dan pendapat, terlibat dalam wacana
intelektual, melakukan perdagangan, pertukaran
pengetahuan, berbagai dukungan emosional, membuat perencanaan,
pencucian otak, gosip, jatuh
cinta, bertemu teman dan kehilanglan mereka, bermain game,
membuat sebuah seni dan
pembicaraan lainnya. Orang dalam
komunitas virtual melakukan segala
sesuatu seperti dalam kehidupan nyata, tetapi kita meninggalkan badan kita dibelakang. Kamu tidak dapat mencium seseorang dan tidak ada yang dapat memukul hidungmu, tetapi banyak hal dapat terjadi pada semua batasan-batasan yang ada (1993:3).
Pernyataan Rhengold diatas sesungguhnya telah menjelaskan
apa dan bagaimana komunitas virtual itu. Komunitas virtual merupakan gabungan
individu – individu yang saling berinteraksi tanpa harus ada kesamaan daerah
dan tanpa terikat waktu. Tetapi mereka merasa memiliki ikatan sosial, budaya
dan meskipun mereka tidak pernah bersentuhan secara langsung (tatap muka)
tetapi mereka merasa bahwa komunitas itu nyata. Komunitas virtual tentu
memiliki perbedaan dengan komunitas organik. Komunitas organik merupakan
kumpulan dari beberapa populasi yang terikat oleh tempat dan waktu yang saling
berinteraksi secara langsung dan memengaruhi satu sama lain. Secara lebih detil
lagi, ada beberapa perbedaan karakteristik pada komunitas organik dan komunitas
virtual:
1.
Dari segi komposisi anggota, komunitas
organik lebih terbatas pada kesamaan usia, sedangkan pada komunitas virtual
batasan usia bisa dihilangkan.
2.
Dalam melakukan agenda aktifitas,
komunitas organik dapat melakukan banyak aktifitas. Sedangkan pada komunitas
virtual mereka hanya dapat melakukan
aktifitas khusus. Misalkan pada komunitas para penggemar film mereka mungkin
hanya akan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan film seperti berbagi
referensi film menarik, berdebat mengenai film terbaru dsb.
3.
Dari segi bahasa dan interaksi,
komunitas organik berinteraksi dengan menggunakan bahasa verbal dan non verbal.
Sementara komunitas virtual berinteraksi dengan lebih banyak menggunakan bahasa
verbal.
4.
Dalam hal identitas dan kebudayaan,
komunitas organik bersifat total tunggal dan homogen karena memiliki ikatan
daerah. Sedangkan komunitas virtual bersifat partial plural dan heterogen.
Setelah
membahas soal komunikasi virtual dan komunitas virtual yang timbul karena
perkembangan teknologi komunikasi maka kurang afdol rasanya jika tidak mebahas
dampak baik dan buruknya akibat dari teknologi komunikasi yang selalu jadi
perdebatan;
Dampak
positif;
1. Alat
referensi yang canggih. Dengan teknologi komunikasi khususnya internet
memungkinkan penggunanya untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya tanpa
terhambat oleh jarak dan waktu.
2. Medium
baru untuk perdagangan. Orang bisa melakukan proses transaksi jual beli
dimanapun kapanpun.
3. Teknologi
Komunikasi memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang diseluruh
penjuru dunia.
4. Dapat menemukan kembali nilai-nilai yang
hilang pada komunikasi tradisional melalui komunikasi dengan menggunakan
Internet.
Dampak
Negatif;
1. Menyulitkan
kontrol terhadap informasi yang tersebar luas melalui teknologi komunikasi.
2. Mengurangi
Interaksi tatap muka karena dengan teknologi yang ada membuat masyarakat lebih
mudah berinteraksi dengan media baru.
3. Maraknya
penipuan yang terjadi pada transaksi jual beli di internet karena terkadang
penjual dan pembeli belum diketahui secara pasti identitasnya.
4. Privasi
menjadi hal yang mudah ditembus oleh teknologi komunikasi.
sumber dan referensi;
Stanley J Baran. Pengantar Komunikasi Masa Jilid 1 Edisi 5 Melek Media dan Budaya
Menciptakan
Kumunitas dengan Media:
Investivigasi/Penyelidikan
Sejarah, Teori dan Ilmu Pengetahuan
NICHOLAS W. JANKOWSKI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar