Sabtu, 22 Maret 2014

Tugas Teknologi Komunikasi Minggu Ke-2

Media Baru dan Komunitas Virtual

            Sebuah hal yang selalu menarik untuk dikaji, khususnya dalam ilmu komunikasi. Amini saja kalimat awal saya tadi. Bahkan setelah diskusi dikelas teknologi komunikasi kemarin pun belum sepenuhnya menjawab rasa penasaran saya. Perkembangan teknologi sekarang ini bukan hanya berdampak pada perubahan pola komunikasi saja tapi berakibat langsung pada perubahan kebudayaan dan juga ekonomi. Gagasan ini sering disebut sebagai determinasi teknologi. Dimulai dari penemuan mesin cetak yang menjadi awal bagi perkembangan media hingga penemuan dan pengembangan internet pada masa sekarang ini hingga menimbulkan pro dan kontra terkait dengan semakin pesatnya teknologi komunikasi.
            Pada kajian perkembangan teknologi komunikasi sendiri, terdapat tiga tahapan. Tahapan yang pertama adalah tahapan mengenai Komunitas dan media. Park (1922)  tertarik dalam  peranan pada  media komunitas yang berhubungan dengan  pembentukan identitas   diantara  group imigran.  Dalam  studi selanjutnya  ia   mengamati  bahwa bacaan surat kabar  adalah bacaan yang identik dengan para  penduduk  kota  dibandingkan dengan penduduk di pedesaan  (Park, 1929).  Pada tahun 1949 Merton menindak lanjuti hasil penelitian dengan melakukan identifikasi pada masyarakat lokal (pedesan) dan kosmopolitan mengenai perilaku kedua kelompok ini dalam mengkonsumsi berita. Masyarakat lokal lebih senang menerima informasi yang berkaitan dengan perkembangan daerahnya. Hal ini saya akui karena pengalaman saya menjadi surveyor disebuah desa di Kebumen mengindikasikan bahwa masyarakat lokal lebih tertarik untuk mencari informasi tentang perkembangan daerahnya, dan apa yang terjadi disekitar mereka. Sebaliknya, masyarakat kosmpolitan lebih terbuka dalam mengkonsumsi informasi dan lebih suka mencari informasi yang bersifat global.
            Tahapan kedua yaitu tahap perkembangan media komunitas elektronik. Dimana pada tahapan ini Media dalam konteks  membuat  ‘media komunitas’ dan  istilah ini mengacu pada sebuah tingkat berbeda pada bentuk-bentuk mediasi pada  komunikasi. Media seperti surat kabar  dan  majalah, dan  selanjutnya menggunakan jaringan elektronik pada akhirnya menyatukan karakteristik  baik pada  media  cetak tradisional dan elektronik. Selanjutnya adalah timbulnya pembentukan televisi komunitas  yang merupakan inisiatif skala kecil yang dibuat oleh orang – orang lokal  sebagai pembeda dari siaran profesional (Lewis, 1976: 61). Para  anggota  pada komunitas, sering beraliansi  dengan para staf stasiun profesional dijadikan sebagai penanggung jawab untuk ide  dan produksi program yang dihasilkan. Para anggota komunitas secara umum dilibatkan  dalam semua hal pada aktifitas stasiun dan melatih mengkontrol  hari demihari  dan  kebijakan dalam  waktu lama.  Dalam area residensial modal sosial,  itu terlihat  seolah-olah media komunitas  dapat  melakukan sedikit  untuk meembuat sesuatu lebih baik’ (lihat juga pada Jankowski et al., 2001).
            Tahapan ketiga adalah era internet. Era internet adalah hal yang seksi untuk dikaji. Bahkan saat ini telah banyak penelitiaan yang mengambil fokus utama soal internet dan komunitas virtual yang hadir akibat perkembangan internet. Perkembangan komunitas virtual pada akhirnya menimbulkan istilah baru dalam dunia komunikasi yang disebut komunikasi virtual. Sebelum melangkah lebih jauh dalam mebahas soal komunitas virtual, kita bahas terlebih dahulu mengenai internet. Internet berbeda dengan media-media yang lebih tradisional. Pada internet, sesorang dapat berkomunikasi dengan khyalayak luas seperti halnya sebuah perusahaan besar penyedia jasa saluran televisi yang menyiarkan informasi kepada khalayak ramai. Namun yang jadi pembeda adalah, jika pada media tradisional umpan baliknya bersifat tidak langsung atau tertunda, tetapi dengan internet sangat memungkinkan untuk mendapatkan umpan balik secara langsung. Sederhananya adalah tulisan pada blog saya ini, sangat mungkin bagi para pengikut blog saya untuk memberikan komentar secara langsung mengenai tulisan – tulisan saya melalui kolom komentar. Pola komunikasi seperti ini lebih mirip dengan komunikasi antar pribadi dibanding dengan komunikasi massa.
            Sesuai penjelasan diatas bahwa individu sekarang dapat melakukan distribusi informasi layaknya sebuah perusahaan media. Maka ada sebuah indikasi bahwa arus informasi dan isu publik dapat dikendalikan oleh publik. Dengan internet, orang dapat memperoleh akses informasi baik lokal maupun global secara cepat kapanpun dimanapun. Kehadiran internet juga mendukung kebebasan berekspresi bagi masyarakat. Saya ambil contoh kasus Prita yang mengirim e-mail keluhan soal pelayanan rumah sakit tempat ia berobat kepada costumer care rumah sakit tersebut dan juga mengirimkan e-mail tersebut kepada beberapa temannya dan akhirnya tersebar ke beberapa mailing list (milis). Hingga akhirnya pihak rumah sakit melayangkan bantahan dan melayangkan gugatan ke kejaksaan tingi negeri karena dianggap melakukan pencemaran nama baik. Hal ini menimbulkan kehebohan di masyarakat dan akhirnya menjadi isu nasional. Yang saya cermati dari kasus Prita Mulyasari yang terjadi pada tahun 2008 adalah bagaimana informasi tersebut tersebar secara cepat melalui mailing list yang merupakan sebuah komunitas virtual dan terjadi sebuah komunikasi virtual dalam proses penyebarannya sehingga menimbulkan reaksi di masyarakat.
            Lalu, apa itu komunikasi virtual ? Komunikasi virtual sendiri merupakan suatu bentuk komunikasi yang dilakukan antar individu ataupun khalayak menggunakan media yang disebut dengan teknologi (Rhengold). Dengan terciptanya teknologi ini, pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer simulated environment). Lingkungan yang tercipta dalam bentuk komunikasi virtual ini adalah bentuk dari lingkungan nyata yang ditiru atau murni hanya merupakan suatu lingkungan yang ada dalam imajinasi. Lingkungan realitas maya modern pada umumnya menyajikan pengalaman visual yang ditampilkan pada layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik. Namun pada beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil penginderaan. Misalnya; pengguna dapat mendengar suara melalui speaker atau headphone. Bukunya yang berjudul The Virtual Community Homesteading  on the Electronic Frontier (2000)  memberikan sebuah  pandangn personal    tentang  seperti apa itu kehidupan dalam dunia cyberspace.  Dengan  mengambil  pengalaman-pengalaman  personal dalam komunitas virtual pertama, WELL (Whole Earth ‘ELectronic Link),  Rheingold  menggabungkan  pada tingkat  partisipasi aktifitas  dalam   lingkungan  virtual.
Orang dalam komunitas virtual menggunakan kata  untuk   bertukar  pandangan dan pendapat, terlibat dalam wacana intelektual,  melakukan perdagangan,  pertukaran  pengetahuan, berbagai dukungan emosional, membuat  perencanaan,  pencucian otak, gosip,  jatuh cinta, bertemu teman  dan  kehilanglan mereka, bermain  game,  membuat  sebuah  seni dan  pembicaraan lainnya.  Orang dalam komunitas virtual  melakukan segala sesuatu seperti dalam kehidupan nyata, tetapi kita meninggalkan badan kita  dibelakang. Kamu tidak dapat  mencium seseorang dan tidak ada  yang dapat memukul hidungmu, tetapi  banyak hal dapat terjadi  pada semua batasan-batasan yang ada (1993:3).
            Pernyataan Rhengold diatas sesungguhnya telah menjelaskan apa dan bagaimana komunitas virtual itu. Komunitas virtual merupakan gabungan individu – individu yang saling berinteraksi tanpa harus ada kesamaan daerah dan tanpa terikat waktu. Tetapi mereka merasa memiliki ikatan sosial, budaya dan meskipun mereka tidak pernah bersentuhan secara langsung (tatap muka) tetapi mereka merasa bahwa komunitas itu nyata. Komunitas virtual tentu memiliki perbedaan dengan komunitas organik. Komunitas organik merupakan kumpulan dari beberapa populasi yang terikat oleh tempat dan waktu yang saling berinteraksi secara langsung dan memengaruhi satu sama lain. Secara lebih detil lagi, ada beberapa perbedaan karakteristik pada komunitas organik dan komunitas virtual:
1.      Dari segi komposisi anggota, komunitas organik lebih terbatas pada kesamaan usia, sedangkan pada komunitas virtual batasan usia bisa dihilangkan.
2.      Dalam melakukan agenda aktifitas, komunitas organik dapat melakukan banyak aktifitas. Sedangkan pada komunitas virtual  mereka hanya dapat melakukan aktifitas khusus. Misalkan pada komunitas para penggemar film mereka mungkin hanya akan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan film seperti berbagi referensi film menarik, berdebat mengenai film terbaru dsb.
3.      Dari segi bahasa dan interaksi, komunitas organik berinteraksi dengan menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Sementara komunitas virtual berinteraksi dengan lebih banyak menggunakan bahasa verbal.
4.      Dalam hal identitas dan kebudayaan, komunitas organik bersifat total tunggal dan homogen karena memiliki ikatan daerah. Sedangkan komunitas virtual bersifat partial plural dan heterogen.

Setelah membahas soal komunikasi virtual dan komunitas virtual yang timbul karena perkembangan teknologi komunikasi maka kurang afdol rasanya jika tidak mebahas dampak baik dan buruknya akibat dari teknologi komunikasi yang selalu jadi perdebatan;
Dampak positif;
1.      Alat referensi yang canggih. Dengan teknologi komunikasi khususnya internet memungkinkan penggunanya untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya tanpa terhambat oleh jarak dan waktu.
2.      Medium baru untuk perdagangan. Orang bisa melakukan proses transaksi jual beli dimanapun kapanpun.
3.      Teknologi Komunikasi memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang diseluruh penjuru dunia.
4.       Dapat menemukan kembali nilai-nilai yang hilang pada komunikasi tradisional melalui komunikasi dengan menggunakan Internet.
Dampak Negatif;
1.      Menyulitkan kontrol terhadap informasi yang tersebar luas melalui teknologi komunikasi.
2.      Mengurangi Interaksi tatap muka karena dengan teknologi yang ada membuat masyarakat lebih mudah berinteraksi dengan media baru.
3.      Maraknya penipuan yang terjadi pada transaksi jual beli di internet karena terkadang penjual dan pembeli belum diketahui secara pasti identitasnya.
4.      Privasi menjadi hal yang mudah ditembus oleh teknologi komunikasi.
           

              sumber dan referensi;
Stanley J Baran. Pengantar Komunikasi Masa Jilid 1 Edisi 5 Melek Media dan Budaya
Menciptakan Kumunitas dengan Media:
Investivigasi/Penyelidikan Sejarah, Teori dan Ilmu Pengetahuan

NICHOLAS W.  JANKOWSKI 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar